300 Tenaga Kerja Indonesia Siap Dikirim BNP2TKI ke Australia

TANGERANG – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) langsung menjaring peluang kerja sama di ajang even pameran dagang terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) yang ke 32 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang. Salah satu kerja sama yang terwujud dengan pihak swasta negara Australia.

“Inikan sebenarnya kita membantu module pemerintah dalam penempatan tenaga kerja. Dalam keadaan ini, kita ingin menempatkan tenaga kerja kita ke Australia. Tentunya kita juga memastikan bahwa tenaga kerja yang kita kirimkan, nanti memenuhi ability yang dibutuhkan di sana,” terang Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI Elia Rosalina usai penandatanganan MOU tersebut.

Event pameran TEI yang ke 32 rencananya, pagelaran yang menampilkan sekira 300 produk unggulan dalam negeri itu akan berlangsung selama 5 hari, yaitu dari hari Rabu 11 Oktober hingga 15 Oktober 2017.Pameran dagang TEI dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi tadi. Tingginya antusiasme peserta dari perusahaan dalam dan luar negeri, membuat pemerintah memproyeksikan jika kegiatan tersebut dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Dijelaskan oleh Elia, sesuai pengarahan dari Presiden Jokowi, maka kini BNP2TKI harus membuka perluasan kerja International di tempat yang baru. Artinya, penempatan para pekerja tak lagi hanya dibeberapa negara langganan, tapi diluar itu. Dengan demikian, beberapa negara lain di kawasan seperti Australia akan menjadi tujuan penempatan tenaga kerja baru.

“Jadi kami melakukan MOU satu kerjasama penempatan 300 tenaga kerja untuk sektor Hospitallity. Jadi yang diminta oleh perusahaan luar itu adalah penempatan di hotel dan restauran. Karena acara (TEI) ini kan berlangsung sampai hari Jumat (15/10), tentu masih banyak peluang dari Buyer, perusahaan asing yang memposting ‘demand’ untuk membuka peluang-peluang di tempat baru itu,” imbuhnya.

Namun Ia mengakui, bahwa bekerja di Australia tidaklah mudah. Kesulitan dalam penggunaan berbahasa Inggris, masih menjadi salah satu hal yang perlu disikapi berikutnya.

“Pengalaman kami kemarin saat menggarap di Australia, Ada ‘Gap’ dalam kemampuan bahasa. Misalnya di saat ada penempatan untuk 100 orang disana, ternyata 80 orangnya tidak lulus bahasa Inggris, bukan nggak bisa, hanya 20 orang yang lulus. Oleh karena itu kami akan¬† mengupgrading Skill berbahasa sesuai permintaan,” ungkapnya.

Sementara, Duta Besar Indonesia untuk Australia Y. Kristiarto S. Legowo menjelaskan, hingga saat ini tercatat ada sekira 60-70 ribu warga Indonesia yang berada di Australia. Dari angka itu, hanya 10 persennya yang terdokumentasi bekerja dibeberapa tempat.

“Kalau kita ingin masuk bekerja di rumah orang (Australia), pastinya kita juga harus memenuhi standar Skill yang dibutuhkan, inilah tantangannya. Sehingga permintaan untuk bekerja disana akan meningkat seiring dengan kualitas SDM-nya,” jelasnya dilokasi yang sama.

More about ...