Ary Krisnawati, Sang Dokter Tanpa Gelar

Kisah inspiratif mengenai pasien gagal ginjal.

Solopos.com, SLEMAN — Menerima diri divonis sebagai pasien gagal ginjal kronis (GGK) bukanlah perkara gampang. Konsumsi obat, cuci darah, deretan operasi hingga kemungkinan alami efek samping jadi konsekuensi yang mungkin dialami. Kendati demikian, menyandang GGK bukan akhir dari segalanya. Setidaknya inilah yang ingin dibagi, Ary Krisnawati, penyandang GGK selama 22 tahun. Bagaimana ceritanya?

Dinyatakan lolos Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) [kini Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri/SNMPTN] Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), adalah suatu pencapaian besar bagi seorang Ary Krisnawati. Bagaimanapun juga julukan “dokter” adalah suatu pencapaian yang prestisius untuk lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sayang, euforia itu dirasakan sesaat.

Selang beberapa waktu, tepatnya saat dia berusia 19 tahun, dokter menyatakan dirinya mengalami GGK. Suatu penyakit yang pernah dikenal lewat buku kedokteran, tetapi kini justru menjadi “sahabat karibnya”.

“Tentu saja saya merasa drop, kecewa. Nilai saya di Kedokteran bagus-bagus, tapi saya justru dinyatakan gagal ginjal,” terang Ary di dalam film dokumenter berjudul Hope, Harapan Adalah Sumber Kehidupan, saat diputar di Bioskop CGV Babarsari, Sleman, Minggu (17/9/2017).

GGK dibenaknya saat itu adalah suatu bencana besar yang sewaktu-waktu dapat mengambil nyawanya. Belum lagi rutinitas yang melelahkan dan menyakitkan dari operasi, cuci darah, obat dan sederat terapi lain yang harus dia lalui.

Sebenarnya, imbuh dia, vonis tersebut tidak hanya menjadi beban bagi pasien, tetapi juga keluarga. Keprihatinan besar dirasakan orang tua dan kakak perempuannya. Dia melihat sendiri bagaimana orang-orang yang dicintainya itu berusaha kuat menjaganya.

Namun kehidupan tak pernah ditebak. Usia seseorang juga menjadi misteri. Kakak perempuan yang sehat dan diharapkan menjadi tempat bergantung justru menutup umur lebih cepat darinya.

“Karena orang tua saya sudah sepuh, saya ingin menggantungkan hidup pada kakak perempuan saya. Namun kakak saya justru meninggal saat gempa Jogja 2006. Saya benar-benar terpukul saat itu,” papar dia.

Tekanan kembali dirasakan, saat ibu kandungnya juga meninggal. Kepergian orang-orang yang dicintai membuat semangat hidupnya tergrogoti.

Sekali lagi dia berada di lembah kekelaman saai untuk kali kedua, dokter menyatakan dirinya mengalami gagal ginjal. Ginjal transplantasi dari ayahnya yang menjadi harapan hanya berusia sembilan tahun. Sekitar tahun 2005, dia kembali harus menjalani rutinitas cuci darah.

Ary joke mengaku sempat menutup diri dari pergaulan. Selain karena merasa tak memiliki pengharapan, dia juga mengaku lelah dengan proses yang harus dijalani sebagai pasien GGK.

Beruntung, Ari memiliki pendukung yang tak pernah jemu untuk memberikan semangat. Ayah dan keponakan yang selalu ada hingga sahabat yang tinggal jauh selalu mengirimkan motivasi.

Hingga pada suatu titik, dia ingin membuka pergaulannya lebih luas. Dia joke meminta tolong keponakannya membeli sebuah ponsel.

“Saya bergabung dengan grup mengenai ginjal di Facebook. Ternyata di sana saya bertemu dengan banyak orang yang mengalami hal yang sama. Saya tidak sendiri dan akhirnya menemukan dunia saya,” paparnya.

Pengalaman selama lebih dari dua dasawarsa sebagai GGK, ilmu yang sempat diperoleh di bangku kuliah hingga masukan dari berbagai dokter yang diterima bertahun-tahun memperkaya pengetahuannya. Inilah yang kerap dia bagi kepada kawan-kawan GGK.

Dari sekadar berbagi pengetahuan dan pengalaman, Ary joke juga ikut membumbuhkan motivasi dari setiap topik maupun percakapan.

“Saya bisa discuss sampai tengah malam dengan teman-teman untuk berbagi. Karena sering berbagi, saya akhirnya dijuluki dijuliki teman-teman dokter tanpa gelar. Mengapa saya melakukan ini? Bagi saya dengan saya menguatkan, sebenarnya saya juga dikuatkan. Jangan pikirkan kesulitan yang akan datang. Jalani saja yang harus dijalani, hemodialisi jangan sampai bolos supaya tidak ada cairan dan racun yang menumpuk, sehingga penangan seelanjutnya juga tidak terganggu,” terang perempuan asal Bantul ini.

 
Berawal Dari Penolakan

Sutradara Hope, Harapan Adalah Sumber Kehidupan, Rahma Nurlinda Sari menyataka akrab dengan penyakit ini. Sebab suami yang dinikahinya setahun yang lalu adalah pasien GGK. Secara rutin, seminggu dua kali dia mendampingi suami di pusat hemodialisis di Klinik Nitipuran, Jogja.

“Saat mendampingi, saya mengamati lingkungan sekitar. Ada banyak reaksi yang dikeluarkan pasien maupun keluarga. Ada juga yang masih dalam fase penolakan. Inilah yang mendasari saya membuat film dokumenter, untuk berbagi GGK bukanlah akhir dari segalanya,” terang dia usai pemutaran film.

Begitu memutuskan untuk membuat film tersebut, Rahma joke mulai menjaring nama-nama yang diajak untuk bergabung dalam proyek tersebut. Dari sekian orang, Ary adalah sosok yang dipilihnya untuk menjadi tokoh utama.

Walau Ary dikenal sebagai pribadi yang bersahabat dan tak sungkan berbagi, perempuan berjilbab ini mengaku tak mudah meyakinkan Ary. Proses pendekatan yang dimulai sejak Desember 2016 baru direspon positif pada Maret 2017.

Melalui film ini, Rahma ingin menularkan semangat untuk pasien dan keluarga GGK.

“Saya ingin sebanyak-banyaknya berbagi, dengan pengelolaan yang baik, GGK juga bisa hidup normal. Pasien GGK itu belum tentu berusia pendek. Yang penting bisa atur pola hidup, makan, asupan, cairan dll. Dengan menularkan semanga hidup, saya ingin berbagi harapan adalah sumber kehidupan. Gagal ginjal bukan berarti Anda gagal hidup,” tutup dia.

<!––>

More about ...