Balada Calon Mahasiswa

PROKAL.CO, ADA yang sedikit berbeda dengan hari ini. Sejak bangun tidur hingga menjelang siang, aku betul-betul diselimuti rasa gundah. Bagaimana tidak, hari ini adalah pengumuman SNMPTN.
”Nat, sudah cek SNMPTN belum? Hari ini kan pengumumannya,” ucap ibu padaku. Aku hanya geleng-geleng seraya terus berkutat dengan game di gadget-ku.

Sebenarnya sedari tadi information seluler gadget-ku telah aktif, tapi aku enggan memanfaatkannya untuk membuka situs pengumuman SNMPTN. Karena aku takut. Ya, aku takut. Takut tidak lulus SNMPTN. Sama seperti yang dialami teman-teman sekelasku di SMA.

Dari 36 siswa yang mendaftar SNMPTN, yang kuketahui hanya satu orang yang berhasil lolos tahun ini. Sesekali kulihat, chat teman-temanku di grup WhatsApp, banyak di antara mereka yang mengirimkan emoticon dengan ekspresi berlinang atmosphere mata.
Ntar aja deh, Bu,” jawabku datar. Ibu hanya geleng-geleng melihatku.
”Tapi jangan lupa dicek, ya. Pulang kerja nanti bapak pasti nagih kamu soal SNMPTN.”

”Ya, Bu. Sore nanti, Nata cek, deh,” balasku lagi.

Selepas melaksanakan salat Ashar, aku langsung membuka gadget-ku. Dengan penuh rasa cemas, aku mencoba mengakses situs resmi pengumuman SNMPTN. Langsung saja kumasukkan information identitas yang diperlukan di situs tersebut, lantas mengklik tombol oke.

Masih loading. Jujur, aku tak berani melihatnya. Hatiku berdebar cemas. Aku merasa jantungku berdegup begitu cepat. Seandainya jantungku ini bisa mengeluarkan suara, aku yakin seisi rumah pasti bisa mendengar degup jantungku. Kualihkan pandanganku menjauhi layar gadget-ku. Sebenarnya, persis di depanku ada kipas angin. Tapi, entah mengapa aku berkeringat. Setelah sekitar 20 menit aku melongo tak jelas, akhirnya aku joke memberanikan diri menatap layar gadget. Mataku membelalak sementara mulutku menganga lebar. Aku berhenti menghirup oksigen beberapa saat.
Lolos. Aku dinyatakan lolos SNMPTN, di module studi dan universitas idamanku. Ya, module studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman. Aku melonjak girang. Bahkan, saking bahagianya, nyaris saja aku membanting gadget-ku. Tanpa kusadari aku berteriak nyaring sekali.
”Ada apa, Nat?” Tiba-tiba saja ibu masuk kamarku. Mungkin karena pekikanku tadi. Aku terdiam, terpaku menatap layar laptop. Seakan memberikan kode pada ibuku. Ibu melirik. Tanpa kujelaskan, ibu tahu apa makna di balik teriakanku tadi. Ibu melempar senyum lebar. Hal ini sontak saja membuat ibu langsung memelukku.
”Alhamdulillah, akhirnya, Nak.” Ibu meneteskan atmosphere mata bahagia, begitu joke denganku. Tak beberapa lama kemudian, bapak datang. Mengetahui aku lulus SNMPTN, bapak bahagia bukan kepalang.
                                                                                                            ***
”Nat, apakah kamu yakin dengan jurusan yang kamu ambil itu?” tanya bapak ketika makan malam.
”Ya, Pak. Aku rasa jurusan Kesehatan Masyarakat, sesuai dengan keinginanku, soalnya dari dulu aku kan sangat suka dengan hal yang berkaitan dengan kesehatan, tapi aku juga masih bimbang,” jawabku.
”Bagus, Nak. Tapi, saran bapak, kamu tanya-tanya lagi perihal jurusan yang kamu ambil itu kepada mahasiswa Kesehatan Masyarakat di Unmul, biar lebih memantapkan hatimu. Jangan sampai kamu merasa salah jurusan di tengah jalan. Sama seperti teman-teman bapak dulu,” saran bapak padaku.
Aku rasa, aku harus bertanya seputar Jurusan Kesehatan Masyarakat, langsung kepada mahasiswanya di Unmul.
Aku teringat dengan tetanggaku, Kak Zen yang kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Unmul. Aku langsung menghubungi Kak Zen untuk menemaniku jalan-jalan ke kampus Kesehatan Masyarakat Unmul. Kak Zen joke menyetujuinya.
                                                                                                                                    ***
Matahari mulai memamerkan sinar hangatnya. Kicau suara burung menjadi orkestra ramah lingkungan yang mewarnai kehidupan di kampus. Sayup-sayup terdengar pula suara dedaunan pohon yang saling bergesekan, diterpa semilir angin pagi.

Sembari menunggu Kak Zen selesai kuliah, aku memilih menunggunya di salah satu gazebo, persis di sebelah perpustakaan Unmul. Sekitar pukul 10.00, Kak Zen, mengampiriku.
”Nat, maaf ya, lama menunggu. Baru selesai nih, ayo kita langsung saja ke Fakultas Kesehatan Masyarakat,” ajak Kak Zen. Aku mengangguk lantas beranjak.
”Kak, kita naik engine atau jalan kaki saja?”
”Hmm, jalan kaki saja. Kampusnya tidak begitu jauh dari sini, sekalian kita jalan-jalan,” ucap Kak Zen tersenyum.
Kami joke melewati beberapa fakultas. Begitu melewati Fakultas Kedokteran yang didominasi warna putih, aku dibuat sedikit terperangah. Dalam hati aku bergumam, besar dan megah sekali Fakultas Kedokteran ini. Persis di sebelah Fakultas Kedokteran, ada jalan bernama Jalan Sambaliung yang terhubung ke Fakultas Teknik, Hukum, dan Kesehatan Masyarakat.
”Nah, itu namanya GOR 27 September. Setiap mahasiswa baru akan menjalani masa-masa pengenalan Unmul di situ.” Kak Zen menunjuk bangunan megah dengan halaman yang cukup luas tersebut.
Kami joke melewati Fakultas Teknik, setelah itu Fakultas Hukum, lantas kami sampai di depan Fakultas Kesehatan Masyarakat yang didominasi warna ungu. Bangunannya tak kalah megah dengan bangunan kampus lainnya. Kak Zen langsung menghubungi seorang temannya yang kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tak lama kemudian, seorang mahasiswa berkacamata menghampiri kami.
Kak Zen menjelaskan maksud kedatangan kami. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat tersebut adalah Arif, orangnya sangat ramah. Aku joke berbincang-bincang dengannya. Dari obrolan tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa Kesehatan Masyarakat adalah jurusan yang sangat pas denganku, yang suka dengan kegiatan sosial.

Aku jadi semakin yakin, Jurusan Kesehatan Masyarakat adalah jurusan yang pas dengan minat dan bakatku. Tak sabar rasanya untuk segera daftar ulang dan menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa. Aku berharap di Unmul ini aku dapat mengukir prestasi yang bisa bermanfaat untuk semua orang, khususnya di bidang kesehatan. (*)

 

 

More about ...