BNP2TKI: Banyak TKI Nelayan Bekerja di Taiwan Hanya Modal Visa Turis

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menemukan masih banyak TKI Pelaut Perikanan atau TKI nelayan asal Indonesia di Taiwan yang dipekerjakan pada kapal yang mencari ikan di luar wilayah teritorial Taiwan.

Informasi ini didapatkan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid saat bertemu dengan komunitas Tenaga Kerja Indonesia di Pelabuhan Donggang, Distrik Pingtung, Taiwan bagian selatan, Jumat (23/6/2017).

TKI Pelaut Perikanan yang melaut sampai ke luar wilayah tersebut biasanya direkrut oleh agensi yang tak hanya berkantor di Taiwan.

Menurut Nusron banyak agensi yang berdomisili di Hong Kong, Jepang, Singapura, dan disejumlah negara lainnya. Sementara kapal tempat mereka bekerja berbendera Taiwan.

“TKI ini masuk dengan visa turis akhirnya tak terdaftar di Kementerian Tenaga Kerja Taiwan,” ujar Nusron.

“Akibatnya jika terjadi perselisihan akan sangat sulit penanganannya,” tambahnya.

Persoalan lainnya, ketrampilan melaut yang terbatas. Pasalnya mereka tak diikutkan pelatihan-pelatihan untuk menambah keahlian dan memperbaiki kualitas.

“Tak ada yang ikut Basic Safety Training. Ini hanya akan menimbulkan masalah,” kata Nusron. Karena posisi tawar yang rendah itu maka ABK Perikanan tersebut dibayar dengan gaji terbilang rendah. Pemilik kapal hanya memberi upah sebesar USD 300 atau setara dengan Rp 4 juta.

“Meski dapat reward hasil penangkapan upah mereka tetap tidak sepadan belum lagi tak ada asuransi jika terjadi kecelakaan,” ujar Nusron.

Nusron menyatakan BNP2TKI sangat serius menyikapi soal ABK Perikanan tersebut. Persoalan itu harus dibahas dengan sejumlah institusi terkait seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Tenaga Kerja, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan setelah revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri diselesaikan. Ia meminta pengiriman ABK untuk laut internasional pelayanannya di bawah BNP2TKI.

More about ...