BNP2TKI: Banyaknya TKI Ilegal Karena Dua Faktor

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang tak berdokumen terus berulang dari waktu ke waktu. Meski pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi, faktanya, kasus-kasus serupa lainnya bermuncul hampir dengan modus yang sama.

Sekretaris Utama BNP2TKI Hermono menyebut, penyebab masih banyaknya TKI ilegal di luar negeri tak lepas dari dua faktor yang melatarbelakangi baik dari dalam maupun luar negeri.

“Ini terjadi karena ada dorongan dari dalam negeri yang membuat orang keluar, seperti kesulitan mencari lapangan kerja. DI sisi lain juga ada faktor penarik dari luar (negeri),” ujar Hermono, dalam Newsline, Kamis 13 Juli 2017,

Meski memiliki kasus yang hampir sama, dua negara dengan jumlah TKI ilegal terbanyak seperti Malaysia dan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, memiliki tipologi yang sedikit berbeda.

Khusus Malaysia, lebih karena ada migrasi tradisional di mana orang sudah biasa lalu lalang. Selain itu, kemudahan akses seperti transportasi, bebas visa bahkan jalur penyeberangan membuat Malaysia banyak diburu orang untuk mencari nafkah.

“Tapi kalau ke Timur Tengah, murni karena kuatnya permintaan yang sudah dimoratorium sejak Mei 2015 sehinga di sana harganya naik tinggi. Inilah yang mendorong para pelaku perdagangan orang memanfaatkan situasi ini,” kata Hermono.

Jika dianalogikan sebagai benang kusut yang sulit terurai, Hermono justru mengatakan persoalan ini harus dibedah. Sebab ada lift dan lift cause dari dalam dan luar negeri mengapa jumlah TKI ilegal di luar negeri masih begitu banyak.

Mengapa TKI ilegal di Timur Tengah atau Malaysia begitu besar, karena permintaan yang tinggi. Faktor lainnya adalah kemudahan mendapatkan pekerjaan meskipun tak berdokumen namun orang berani lalu lalang keluar masuk ke dua negara tersebut, terutama Malaysia.

“Beda misalnya dengan Singapura, Taiwan, atau Hongkong. Tidak berdokumen sulit untuk mendapatkan majikan. Kalaupun ada, biasanya kabur dari majikan. Tetapi saat masuk pertama kesana dipastikan legal, di sana kabur dan menjadi ilegal,” jelas Hermono.

(MEL)

More about ...