CATATAN: Akhir Generasi Arjen Robben


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Di dekat lingkaran tengah lapangan, Arjen Robben berdiri sendirian. Dia mengambil waktu sejenak guna melihat ke sekelilingnya. Ribuan penonton mengisi Stadion Johan Cruyff ArenA. Tak sampai penuh terisi. Tatapannya sekilas mengintip papan skor: “Belanda 2, Swedia 0”. Namanya tertulis di bawahnya sebagai pencetak seluruh gol Belanda malam ini.

Lalu matanya menatap mengitari rekan-rekan setimnya satu persatu. Tidak ada lagi Wesley Sneijder, Robin outpost Persie, Rafael outpost der Vaart, Dirk Kuyt, atau Nigel de Jong. Dua anak laki-lakinya berlari masuk lapangan, lamunannya joke tersentak. Pertandingan baru saja berakhir. Kenyataan pahit itu nyata sudah, Belanda gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Belanda terpuruk. Mereka membutuhkan kemenangan tujuh gol tanpa balas atas Swedia untuk memupuk asa tampil di Rusia, tapi hanya dua gol yang tercipta. Satu melalui penalti panenka Robben, satu lagi lewat tendangan keras terukur ke tiang jauh. Dua-duanya terjadi di babak pertama. 

“Inilah Belanda yang sebenarnya. Inilah penampilan yang seharusnya kita suguhkan kepada fans,” ujar Robben membakar semangat rekan-rekan setimnya di kamar ganti saat jeda.

Namun, tidak ada gol tambahan di babak kedua. Belanda menyamai perolehan poin Swedia, tapi tak mampu merebut tiket play-off karena kalah selisih gol. Takkan ada warna jingga di Rusia tahun depan.

Ini kegagalan beruntun kedua setelah mereka gagal melangkah ke putaran final Euro 2016. Penurunan yang drastis jika mengingat 39 bulan yang lalu Oranje mampu membalikkan perkiraan dengan menembus semi-final Piala Dunia 2014. Dilatih Louis outpost Gaal, Belanda tidak terkalahkan sepanjang waktu normal pertandingan. Spanyol digilas 5-1 dan tuan rumah Brasil dilibas 3-0. Prestasi itu kini hilang dalam bayang-bayang masa lalu.

Di bangku cadangan, Dick Advocaat mencoba berlapang dada. Periode ketiganya sebagai bondscoach berakhir pahit. Advocaat, pelatih 70 tahun yang meniti karier sebagai asisten Rinus Michels, adalah warisan masa lalu Belanda. Sama seperti dua pendahulunya, Guus Hiddink dan Danny Blind, Advocaat adalah simbol sejarah yang tidak bisa menjawab tantangan sepakbola epoch modern.

Skuat Belanda saat ini diyakini sebagai salah satu generasi terburuk yang pernah dimiliki. Tidak ada lagi penerus striker tajam seperti Van Persie, pengatur serangan seperti Sneijder, atau kiper seperti Edwin outpost der Sar. Robben adalah satu-satunya pemain kelas dunia yang dimiliki Advocaat, dan memiliki satu pemain dunia saja tidak cukup membawa Belanda melangkah dari kualifikasi Piala Dunia.

Penulis Telegraph, Sam Wallace, pernah mengungkapkan pensiun dininya Royston Drenthe tahun lalu sebagai representasi hilangnya satu generasi pemain yang dimiliki Belanda sejak menjuarai Kejuaraan Eropa U-21 2007. Nyaris tidak ada pemain dari skuat Foppe de Haan saat itu yang saat ini menjadi penggawa andalan Oranje. Ryan Babel baru dipanggil lagi memperkuat timnas setelah absen selama lima tahun!

“Kami dalam fase tidak memiliki para pemain top. Para pemain tip yang ada beranjak tua dan para pemain muda terlalu hijau untuk mengisi kekosongan. Kami punya banyak pemain berbakat, tapi mereka belum jadi,” ujar Ronald de Boer membenarkan anggapan itu.

“Kalau saya melihat generasi pemain yang masih muda, saya pikir mereka luar biasa. Tapi kalau hanya bicara soal bakat, sifatnya naik turun. Suatu waktu mencuat kemudian setelahnya menukik. Namun, mereka punya bakat besar dan mudah-mudahan mereka bersinar di usia 25 tahun [saat Piala Dunia 2022 di Qatar].”

Selain itu, analis information sepakbola @11tegen11 mengeluhkan metode kepelatihan Belanda yang terlalu memuja serangan melalui sayap, jibunan operan guna mendominasi pertandingan, dan kurangnya penggunaan information untuk menganalisis kekuatan/kelemahan lawan.

Bukan rahasia lagi jika KNVB mendapat cercaan dengan serangkaian keputusan penunjukan pelatih yang gagal. Usai Brasil 2014, kursi Van Gaal diberikan kepada Guus Hiddink dengan alasan untuk mengembalikan mazhab sepakbola Belanda. Padahal, Ronald Koeman berulang kali menyatakan ketertarikan melanjutkan tugas Van Gaal. Misi Hiddink gagal sum di kualifikasi Euro 2016. 

“Kami kehilangan identitas, yaitu bagus dalam organisasi dan memiliki gaya menyerang. Sekarang, kalau kami melakukannya, kami kebobolan banyak gol,” terang eks manajer Tottenham Hotspur, Martin Jol.

“Di Belanda filosofi kami adalah menjadi beda. Sekarang kami ingin seperti orang-orang lain, padahal mereka lebih besar dan lebih baik daripada kami.”

Kualitas kompetisi domestik juga tidak membantu. Para pemain muda akademi Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam berlomba-lomba menyambut iming-iming klub-klub tip Eropa. Klub seperti Ajax dan Feyenoord tak punya banyak pilihan, mereka kalah bersaing secara finansial. Padahal, kepindahan di usia muda itu buruk bagi perkembangan si pemain.

“Saya kira masalahnya adalah banyak pemain muda Belanda pindah dalam usia yang masih muda ke liga-liga luar negeri,” ujar De Boer. 

“Liga-liga besar juga mendatangkan pemain-pemain bagus, selain merekrut pemain bintang. Hasilnya, pemain bagus tak lagi datang ke Eredivisie. Kami terpaksa menggunakan pemain yang ada, yang menurut saya, tidak begitu bagus kualitasnya.”

“Dengan tidak teruji di Belanda, seorang pemain harus menghadapi para pemain yang lebih baik di Chelsea, Arsenal, Manchester United, atau tempat-tempat lain.”

“Kepindahan itu sebuah perjudian karena sepakbola sekarang adalah bisnis. Kalau pemain muda tidak berkembang, klub dengan cepat membeli pemain jadi. Jadi, tidak mudah mendapatkan kesempatan. Setidaknya di dalam negeri ada kesempatan itu.”

Sepakbola Belanda berhenti berpikir. Sejak Michels dan Johan Cruyff merumuskan pola pengembangan ala total football, mereka seperti malas berinovasi. Semua tim Eredivisie bermain dengan formasi yang sama (4-3-3), tidak ada dorongan untuk mencoba sesuatu yang baru. 

Kemunculan pelatih inovatif seperti Peter Bosz (dan juga Erik 10 Hag) menyegarkan Eredivisie, tetapi sayangnya hanya bertahan semusim. Pendekatan gaya baru Bosz malah membuat gelisah kelompok sepakbola diehard di Ajax. Bosz akhirnya hengkang ke Borussia Dortmund dan hasil kepelatihannya tampak menjanjikan di awal musim ini.

Sungguh ironis karena kemunculan total football akhir 1960-an berawal dari desakan untuk mengubah cara pandang sepakbola. Ironi nomor dua adalah pengembangan total football justru menuai sukses di luar Belanda, tepatnya di Barcelona dan kemudian menjadi salah satu kunci sukses Spanyol menjadi juara dunia 2010.

Hingga kini KNVB dan orang-orang diehard seperti Advocaat mungkin masih sulit mencerna perubahan. Tapi, tidak buat Robben. Sang Manusia Kaca memutuskan pensiun dari Oranje setelah mengumpulkan 96 caps dan 37 gol.

“Malam ini terasa spesial dan ada perasaan masygul. Tapi, ini bukan tentang saya. Saya sudah tahu lebih awal kalau pertandingan ini bisa menjadi pertandingan terakhir saya, jadi rasanya sangat spesial,” ujar pemain 33 tahun itu usai pertandingan kepada NOS.

“Biasanya ada perpisahan yang indah. Saya berpeluang mencetak gol ketiga. Itu seperti menyamai Dirk Kuyt [yang pensiun setelah mencetak hat-trick pada laga pamungkasnya untuk Feyenoord]. Tapi dia berhasil menjadi juara, jadi ini terasa sangat hambar.”

“Kami semua punya mimpi dan saya harus memuji seluruh pemain dalam tim. Saya sudah berusia 33 tahun, saat Euro 2020 berlangsung usia saya 36 tahun. Entah kapan saya akan berhenti. Sekarang saya ingin berkonsentrasi untuk klub dan sekarang waktu yang tepat untuk menyerahkan tongkat estafet.”

Saat yang tepat pula bagi Belanda dalam membuka cakrawala pemikiran baru untuk sepakbola mereka.

 

More about ...