Cerita Dian Sastrowardoyo dan Sumba Timur

Misi luhur bagi kesejahteraan penduduk Sumba Timur yang berawal dari kecintaan akan tradisi juga kekayaan alamnya.

Sosok Dian Sastrowardoyo dengan kelihaian beradu peran menjad tag yang begitu melekat bagi aktris sekaligus filantropis ini. Namun tak banyak yang mengetahui jika ia punya segudang kesibukan lain yang jauh dari kesan glamor, sebagaimana yang biasa Anda saksikan di layar kaca.

Menaungi Yayasan Dian Sastrowardoyo, sebuah yayasan yang ia dirikan di tahun 2009 lalu, ia kini aktif dalam berbagai bulletin sosial lewat sejumlah partisipasi yang bertujuan untuk memajukan bidang pendidikan, serta pemberdayaan wanita sekaligus budaya.

Salah satunya yang baru saja ia resmikan, yaitu ekshibisi bertajuk Lukamba Nduma Luri. Terdengar asing di telinga, pasalnya kalimat tersebut merupakan sebuah kiasan yang diambil dari bahasa Sumba, berarti benang yang memberi ruh, kain yang memberi hidup.

Maka jangan heran jika mendapati satu sisi di lantai dasar Plaza Indonesia dengan bentangan kain tenun khas Sumba Timur beserta hasil potret yang menggambarkan keindahan daerah ber-padang sabana luas tersebut, lengkap dengan pesona para penduduk lokalnya.

Secara resmi, ekshibisi ini dibuka oleh sang penggagas, Dian Sastrowardoyo pada Selasa, 8 Agustus 2017 di La Moda, Plaza Indonesia.

Bersamaan dengan momen tersebut, turut pula dilangsungkan penggalangan dana melalui penjualan kain tenun tradisional dari Sumba Timur.

Hasil penjualan akan digunakan untuk module pengadaan akses atmosphere bersih di daerah Wairinding, yang juga menjadi kolaborasi Yayasan Dian Sastrowardoyo dengan Waterhouse Project, serta renovasi rumah adat Prainatang, Sumba Timur.

Janna Soekasah-Joesoef, Miranda Gultom, Dian Sastrowardoyo, Ghea Panggabean

Antusiasme yang besar dari para undangan terasa hangat menyelimuti bruise itu, menciptakan suggestion kebersamaan yang mengusung visi juga misi serupa bagi rakyat Indonesia.

Tampak juga Chitra Subyakto, desainer di balik tag Sejauh Mata Memandang dan penata gaya pada seluruh foto yang dipertontonkan, memeragakan bagaimana kain tenun mampu menjadi padanan busana berformat complicated sekaligus modis.

Chitra Subyakto dan Thanya Ponggawa, pendiri Waterhouse Project

Momen itu seakan menjadi acuan untuk menyuarakan rasa cinta pada tradisi dan kekayaan lokal Tanah Air, khususnya kaum muda, sehingga tidak lengah pada budaya negeri sendiri yang sewaktu-waktu bisa saja sirna  oleh gesitnya perkembangan industri gaya hidup.

Ria Lirungan, Dian Sastrowardoyo

Maulana Indraguna Sutowo

Mien Uno

Jaclyn Halim, Hakim Satriyo

Amalia Wirjono, Ayu Rosan

Diah Permatasari

(Foto: Hary Subastian)