Cinta Tak Terbatas Waktu Bernama Arseto Solo

Bola.com, Solo – Arseto Solo. Siapa yang tak kenal klub legendaris di epoch Liga Sepak bola Utama (Galatama) medio 1978-1998 itu. Klub berjulukan Tim Biru Langit merupakan juara Galatama pada1992.

Lahir di Jakarta, namun klub yang didirikan putra Presiden RI Soeharto, Sigid Harjoyudanto, itu besar dan meraih segudang prestasi di Kota Bengawan sejak boyongan tahun 1983.

Dengan sokongan dana melimpah saat itu, Arseto Solo menjelma sebagai tim berlabel bintang. Tak ayal, nama besar klub yang bermarkas di Stadion Sriwedari, Solo itu, mampu menghasilkan pemain-pemain Timnas Indonesia mulai Bambang Nurdiansyah, Ricky Yacobi, Inyong Lolombulan, Eddy Harto, Benny outpost Breukelen, hingga epoch Agung Setyabudi, Rochy Putiray, we Komang Putera, serta Miro Baldo Bento.

Setelah 19 tahun bubar, Arseto Solo kembali “hidup” dalam sebuah reuni akbar di Kota Solo, Jumat-Minggu (17-19/11/2017). Sekitar 70-an mantan pemain dan pengurus tumpah-ruah dalam bulletin itu.

Ibarat syair lagu Cintaku Tak Terbatas Waktu karya musisi Deddy Dores, puluhan mantan pemain itu membuktikan rasa cinta terhadap klub yang pernah membesarkan nama mereka.

Romantisme klub itu dengan Kota Solo memang tak panjang, hanya sekitar 15 tahun, atau berakhir saat tragedi keurushan Mei 1998. Namun, kenangan manis tak akan pernah terkikis.

“Istilahnya, klub ini sudah seperti keluarga dan rumah kami. Saat masih aktif berkompetisi, kami merasakan kebahagiaan dan juga kesedihan bersama-sama,” ungkap striker legendaris Timnas Indonesia, Ricky Yacobi.

Bagi Ricky, nostalgia dalam reuni akbar itu benar-benar sebagai ajang silaturahmi pemain Arseto Solo empat generasi, mulai akhir 1970-an atau awal berdiri, 1980-an, awal 1990-an, hingga generasi terakhir angkatan 1998. Apalagi, sudah belasan bahkan dua puluhan tahun mantan pemain Arseto tak berkumpul.

“Kami masih memiliki banyak cerita indah dan juga sedih saat bersama-sama. Termasuk Mes Kadipolo (Mes Arseto) jadi saksi bisu kejayaan hingga akhir hayat tim ini. Satu hal yang perlu dicatat, suporter Arseto saat itu sangat sportif apapun hasilnya. Jadi lawan sangat nyaman saat bermain di Solo,” kata pemain yang pernah memperkuat tim Liga Jepang, Matsushita FC, tersebut.

 

Dukungan Si Tukang Becak

Rochy Putiray bisa dikatakan sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia. Pria kelahiran Maluku, 26 Juni 1970 itu malang-melintang di sejumlah klub besar Tanah Air. Sebut saja Arseto Solo, Persijatim, PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, hingga PSS Sleman.

Tak hanya cemerlang di dalam negeri, striker 47 tahun itu juga memiliki prestasi ketika terjun di Liga Hong kong, bersama Instant Dict, Kitchee SC, hingga South China AA. Rochy juga sempat memperkuat Timnas Indonesia mulai 1991 hingga 2004 dengan torehan 17 gol.

Jika bicara tentang Arseto Solo, Rochy memang tak bisa melupakan klub legendaris di epoch kompetisi Galatama itu. Baginya, Arseto dan Kota Bengawan terlalu banyak kenangan yang sukar untuk dilupakan.

“Saya selalu gemetar saat kembali bermain di Stadion Sriwedari. Dulu saat masih di Arseto, penonton hampir mengisi setiap sudut tribune,” ujar pria lulusan Universitas Surakarta (UNSA) tersebut.

Rochy Putiray saat bermain dalam laga persahabatan memperkuat Arseto Solo melawan mantan pemain Warna Agung di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (18/11/2017). (Bola.com/Ronald Seger Prabowo)

Bagi Rochy, banyak kenangan yang sulit untuk dibuang. Tampil menggenakan jersey berwarna khas biru laut di Stadion Sriwedari meruakan sebuah kehormatan dan kebanggaan. Bagaimana saat jelang pertandingan, suara announcer yang menyebutkan satu per satu nama pemain yang turun, membuat jantung berdegup kencang.

“Ada rasa kebanggaan saat nama saya disebut bersama pemain-pemain lain yang berlabel bintang. Rasa-rasanya, suara itu seperti masih terdengar saat saya kembali bermain di Stadion Sriwedari,” lanjut striker yang mencetak 177 gol dari 219 laga bersama Arseto Solo itu.

Selain itu, Rochy mengakui jika suporter Arseto merupakan yang terbaik di jagad raya dalam hal sportivitas. Menurutnya, tak ada kemarahan atau aksi anarkis yang terjadi saat timnya menelan kekalahan. Justru doa dan dukungan yang selalu didapat saat tim dalam kondisi terpuruk.

“Saya punya kenangan ketika sesudah bermain kembali ke mes dengan becak. Pak sopir, yang juga suporter, tidak pernah mencaci, bahkan memberi dukungan dan doa agar kami kembali menang. Itu hal yang luar biasa bagi saya sebagai pemain,” ucapnya.

Keinginan untuk Dihidupkan Lagi

Kini setelah lebih dari dua dekade tim itu lahir, masa-masa kejayaan Arseto terus dinanti pencinta sepak bola Kota Solo. Hasrat agar Arseto Solo kembali dihidupkan dan ikut berlaga di kompetisi sepak bola Tanah Air terus menggelora.

Pelatih yang sekarang Direktur Teknik Timnas, Danurwindo, menilai wajar jika masyarakat punya keinginan Arseto hidup lagi serta penuh kejayaan seperti masa lalu. Menurutnya, hal yang maklum bila masyarakat Kota Solo mendambakan kembalinya Arseto sebagai tim terbaik di negeri ini.

“Wajar jika masyarakat Kota Solo merindukan Arseto. Bagaimanapun juga nama Arseto dengan segala prestasinya sudah sangat melekat di kota ini, begitu juga dengan masyarakat Solo. Apalagi tim ini pernah memberikan tinta emas sebagai juara Galatama,” ujar Danurwindo.

Inyong Lolombulan saat bermain dalam laga persahabatan memperkuat Arseto Solo melawan mantan pemain Warna Agung di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (18/11/2017). (Bola.com/Ronald Seger Prabowo)

Dukungan serupa juga dilontarkan kapten tim saat juara Galatama 1992, Inyong Lolombulan. Menurut Inyong, Arseto memiliki modal yang cukup mapan secara teknis.

Hal yang dimaksud adalah sumber daya manusia yang cukup melimpah dari kalangan jebolan tim Arseto Solo. Baginya, Arseto akan menjadi tim yang kembali besar seperti sediakala.

“Tidak masalah harus mulai dari kasta terbawah. Saya rasa teman-teman juga banyak yang menginginkan tim ini kembali hidup dan berkompetisi. Tinggal bagaimana beliau-beliau di atas nanti yang membuat keputusan,” ujar mantan pelatih Persipon Pontianak dan Persis Solo itu.

More about ...