Demo Supir Taksi, Pendapatan Sopir Grab Turun Rp2 Juta

JAKARTA – Munculnya inovasi transportasi yang dibalut dengan sistem aplikasi sejak awal memicu kontroversi dan penolakan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan. Seiring berjalannya waktu kontroversi semakin berkembang, bahkan puncaknya terjadi demonstrasi penolakan Grab Car dan Uber dari para supir taksi yang berujung anarkis.

Memang, jika melihat dari pandangan masyarakat sebagai pengguna, kebanyakan mendukung adanya transportasi online ini. Pasalnya hadirnya transportasi online seakan menjadi jawaban dari keinginan masyarakat Indonesia yang berharap adanya evolusi transportasi massal yang dinilai sudah jauh dari kata layak.

Alhasil layanan jasa transportasi online kian di gandrungi. Bahkan para drivernya mendulang rejeki yang terbilang cukup fantastis untuk profesi sekelas driver. Namun, salah satu Grab Car Suryadi mengaku belakangan ini ada penurunan pendapatan. Hal itu lantaran konflik penolakan transportasi online yang semakin memanas.

“Dulu waktu awal-awal kami bisa dapat Rp10 juta per bulannya. Ditambah lagi dapat reward per minggu hingga Rp5 juta,” ujarnya kepada Okezone beberapa waktu yang lalu.

Namun seiring berjalannya waktu, gurihnya pendapatannya tersebut semakin hambar. Meskipun Suryadi tidak memungkiri pendapatan yang diperolehnya masih jauh lebih besar dibandingkan ketika dirinya masih menjadi motorist Blue Bird. “Kalau sekarang bonusnya seminggu pale Rp1 juta. Untuk pendapatannya sebulan Rp8 juta. Masih lumayan, tapi ya berkurang,” imbuhnya.

Suryadi memandang penurunan pendapatan tersebut lebih disebabkan karena semakin memanasnya kontroversi penolakan transportasi online. Sehingga menurunkan minat masyarakat untuk menggunakan Grab Car karena merasa takut.

“Karena banyak dari kita yang kena unconditional dari supir taksi lain. Bukan pas lagi demo kemarin, sebelumnya juga sering terjadi. Bukan hanya di rusak mobil tapi juga HP dibanting,” tambahnya.

More about ...