Demo Taksi Online di Cirebon, Penumpang sampai Dipaksa Turun

INDOPOS.CO.ID– Aksi penolakan terhadap transportasi berbasis online di Cirebon nyaris berujung bentrok, kemarin. Tepat di Jl Raya Rajawali Perumnas, Cirebon, sebuah mobil Xenia warna putih tiba-tiba dihadang belasan sopir angkutan kota (angkot). Pintu mobil berpelat hitam ini langsung dibuka, penumpangnya diturunkan.

Pantauan Radar Cirebon (INDOPOS GROUP), peristiwa yang terjadi sekitar pukul 11.30 itu bermula saat pengemudi online masuk dari by pass hendak menuju arah Drajat. Dia berhenti di belakang mobil samsat keliling yang sedang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Entah kenapa berhenti lama, memunculkan kecurigaan dari para sopir angkot yang kebetulan berkumpul di pinggir jalan.

Tiba-tiba beberapa sopir angkot mendatangi mobil tersebut sambil berteriak bahwa angkutan itu adalah taksi online. Pengemudi Xenia itu langsung diminta untuk membuka kaca dan penumpangnya disuruh keluar dari mobil. Suasana nyaris tak terkendali saat sopir angkot lainnya ikut menggeruduk dan mengepung mobil tersebut.

Bahkan beberapa sopir angkot sambil berteriak kencang, membuat suasana memanas. Beruntung tidak jauh dari lokasi ada beberapa polisi yang sedang memberikan pelayanan samsat keliling. Mereka langsung meredam situasi. Bererapa anggota TNI yang berada di lokasi juga ikut meredam amarah para sopir angkot. ”Jangan ada yang menyentuh, jangan ada yang menyentuh,” teriak salah seorang polisi.

Oleh polisi, pengemudi Xenia diminta untuk meneruskan perjalanan, tapi penumpangnya tetap diturunkan di lokasi kejadian. Penumpang perempuan yang terpaksa diturunkan terlihat pasrah. Begitu juga sopirnya juga tidak bisa berbuat banyak atas penghadangan yang dilakukan para sopir angkot.

Terpisah, Kepala Dishub Kota Cirebon Drs H Atang Hasan Dahlan MSi kembali mengatakan taksi online di Kota Cirebon belum memiliki izin. Meskipun izin tersebut dikeluarkan Provinsi Jawa Barat, namun Pemkot Cirebon melalui Dishub memberikan rekomendasi sebelum izin dikeluarkan.

Sedangkan engine online, secara aturan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas, secara tegas melarang engine sebagai transportasi umum. ”Kami mengacu pada aturan. Saat ini persoalan taksi online sedang menghangat. Kami berharap semua pihak menjaga kondusivitas kota,” ucapnya kepada Radar, Rabu (9/8).

Terkait rencana razia yang akan dilakukan, Atang Hasan Dahlan memastikan hal itu menjadi bagian dari bulletin ke depan. Saat ini, Dishub Kota Cirebon sudah mengirimn surat kepada taksi online agar tidak beroperasi terlebih dulu, sebelum perizinan di tangan. Termasuk pula untuk menjaga kondusivitas. Terkait itu, Pemkot Cirebon dalam waktu dekat akan melakukan rapat bersama unsur muspida, agar langkah yang diambil mendapatkan masukan dari berbagai pihak secara komprehensif dan obyektif.

Atang Hasan Dahlan mendapatkan laporan tentang kegiatan unconditional angkutan konvensional terhadap taksi online. Dishub mengingatkan dan mengajak semua pihak untuk menahan diri agar kondusivitas Kota Cirebon terjaga. Razia akan dilakukan bersama kepolisian. “Kami akan melakukan razia. Tetapi setelah ada hasil rapat bersama unsur Muspida Kota Cirebon,” tegasnya. Razia tersebut untuk memastikan taksi online yang beredar telah memiliki izin. Sepanjang belum ada izin, Dishub Kota Cirebon menilai ilegal.

Sementara Ketua DPRD Kota Cirebon Edi Suripno MSI mengaku pernah mendapatkan surat dari sopir angkutan kota. Mereka menyampaikan keberatan atas keberadaan taksi online. Yang menjadi persoalan, kata Edi, aturan soal angkutan diatur provinsi.

Karenanya, kata Edi, pihaknya sedang menyiapkan kajian supaya bisa menyelesaikan persoalan ini. “Wilayahnya dishub. Kita berharap tetap kondusif. Jangan tegakkan aturan dengan melanggar aturan. Kalau ada pelanggaran ya aturan ditegakkan. Kita segera bikin kajian dengan instansi terkait,” ujarnya. (abd/ysf/Radar Cirebon/JPG)