EKSKLUSIF – Indra Sjafri: Tanggung Jawab Antara Timnas & Klub Jangan Sampai Terbalik


OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN


Pelatih tim nasional (timnas) Indonesia U-19 Indra Sjafri bisa dibilang saat ini menjadi salah satu pelatih yang pale mendapatkan sorotan di pentas sepakbola nasional. Sorotan positif yang ditujukan kepadanya tak lepas dari hasil polesannya terhadap tim berjulukan Garuda Nusantara itu.

Sebelumnya, pelatih asal Sumatera Barat itu juga pernah membuat bangsa Indonesia menikmati juara Piala AFF U-19 2013, yang skuatnya dihuni oleh Evan Dimas dan kawan-kawan. Namun di balik kesuksesannya tersebut, Indra juga menyimpan semacam kekhawatiran terkait pola pembinaan sepakbola usia muda di Indonesia.

Terutama, setelah melihat para pemain yang menghuni skuat juara Piala AFF U-19 2013, tak semuanya berhasil mempertahankan performa terbaik mereka. Bahkan, ada yang namanya semakin tenggelam ketika memperkuat klub-klub profesional di Indonesia. Tapi, ada juga pemain yang namanya semakin bersinar, padahal ketika di timnas U-19 epoch tersebut mereka bukan berstatus sebagai pemain pilihan utama.

Bisa dibilang, saat ini hanya beberapa saja pemain yang menjadi pilihan utama timnas U-19 ketika itu, menjadi andalan di klub yang mereka bela saat ini. Sebut saja Evan Dimas (Bhayangkara FC), Putu Gede Juni Antara (Bhayangkara), Hansamu Yama Pranata (Barito Putera), Muhammad Hargianto (Persija Jakarta), serta Ilham Udin Armaiyn yang kini mulai bersinar kembali secara perlahan di Bhayangkara.

Sedangkan beberapa nama yang tenggelam adalah Muhammad Sahrul Kurniawan (Bhayangkara), M. Fatchu Rochman (Bhayangkara), Ravi Murdianto (Mitra Kukar), Paulo Sitanggang (Barito Putera), Maldini Pali (Persiba Balikpapan), serta Muchlis Hadi Ning Syaifulloh (Semen Padang) dan Dimas Drajad (PSMS Medan). 

Muchlis Hadi Ning - PSM  - Pekan Ke-10

Muchlis menjadi salah satu pemain eks skuat juara Piala AFF U-19 2013 yang meredup sinarnya di klub.

Dan beberapa nama yang sebelumnya bukan sebagai pilihan utama seperti Awan Setho Raharjo (Bhayangkara), Ricky Fajrin Saputra (Bali United), Miftahul Hamdi (Bali United), Yabes Roni Malaifani (Bali United), Septian David Maulana (Mitra Kukar), justru makin menunjukkan sinarnya bersama klub masing-masing.

Indra menuturkan, ada banyak faktor yang membuat eks para pemainnya tersebut bisa mengalami hal tersebut. “Pertama, anak itu sendiri yang enggak konsisten. Kedua, klub yang menerima dia. Misalnya si pemain memilih klub yang salah, contohnya seperti klub tersebut punya visi juara, terus pemain itu masih ke situ. Padahal kan dia baru pemain pemula untuk dunia profesional,” ujar Indra, saat berbincang khusus dengan Goal Indonesia, di salah satu pusat perbelanjaan chosen di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (25/10) lalu.

“Ketiga, mungkin saja klub itu yang salah, dalam hal ini pelatih dan elemen lainnya, lantaran enggak mau memberi kesempatan kepada pemain-pemain yang potensial tersebut,” tambah eks pelatih Bali United.

Dia mencontohkan, ketika masih melatih Bali United, dirinya tetap memberikan kesempatan kepada para pemainnya di timnas U-19 untuk mendapatkan menit bermain. Hasilnya, permainan Ricky Fajrin, Yabes Roni, Miftahul Hamdi, hingga kiper Mochammad Diky Indriyana, kini masuk radar pelatih timnas Indonesia Luis Milla Aspas.

“Setelah lepas dari timnas sebenarnya tanggung jawab pembinaannya kan ke klub, di mana mereka yang dari timnas ini bisa makin bagus. Jangan terbalik, timnasnya yang buat pemain tapi setelah dikasih malah terus turun. Seharusnya timnas yang memetik dari klub,” jelas pelatih berlisensi A AFC itu.

GFXID - Quote Indra Sjafri

“Seperti sekarang selalu ada pertanyaan, apa aim dari timnas U-19? Pastinya semua ingin juara. Tapi yang penting buat saya, bukan apa yang kita dapat sekarang tapi apa yang kita buat sekarang,” tegasnya. 

Yang membuatnya salut saat ini adalah, masyarakat sepakbola Indonesia sudah mulai berubah pola pikirnya terkait pentingnya proses dalam pembentukan sebuah timnas. Itu terlihat, ketika timnya gagal di Piala AFF U-18 2017 dengan hanya meraih peringkat ketiga, kemudian saat timnas Indonesia U-22 hanya mendapatkan medali perunggu di SEA Games 2017, serta timnas U-16 yang gagal sum di Piala AFF U-15 2017 namun berhasil menjadi juara grup di Pra Piala Asia U-16 2018.

“Ini artinya masyarakat melihat bagaimana pelatih membangun tim, yang mereka nilai polanya sudah benar dan jujur. Karena pengalaman saya dulu, visinya enggak sama, mindset kita beda, akhirnya tim yang sudah bagus teracak-acak, terus bubar, hilang, hingga akhirnya tanpa bekas,” ujar eks pemain PSP Padang itu.

“Jadi parameter mengukur keberhasilan atau kegagalan pelatih itu bukan dari hasil turnamen, tapi dari hasil proses yang dia lakukan. Mulai dari scouting, latihan, perkembangan anak-anaknya bagaimana, hingga dilihat dari kualitas timnya bagaimana. Kan enggak mungkin kita misalnya baru dibentuk tim dua bulan, langsung ditarget juara,” jelas pelatih berusia 54 tahun tersebut. (Bersambung)

GFXID - Quote Indra Sjafri

Keterangan: Pada artikel selanjutnya, Indra mengungkapkan saran-sarannya dalam membangun pembinaan sepakbola usia muda di tengah luasnya geografis Indonesia. Simak terus eksklusif Indra Sjafri bersama Goal Indonesia!

 

More about ...