Forest Green Rovers: Hijau atau Mati!

Manchester United boleh membusungkan dada karena menggunakan seragam hasil daur ulang sampah laut. Namun, upaya menjaga kelestarian lingkungan mereka itu hanyalah sampah dibandingkan `hijaunya` Forest Green Rovers.

Forest merupakan salah satu kesebelasan tertua di dunia. Mereka dibentuk oleh sekelompok anggota Non-komformis di kota Nailsworth, keresidenan Cluchestershire pada 1889.

Jika nama Forest yang satu ini terasa amat asing dibandingkan Forest lainnya (Nottingham), itu adalah hal wajar. Musim 2017-18 kemarin adalah musim pertama mereka mencicipi League Two (divisi bontot sepakbola profesional Inggris). Lebih dari satu abad sebelumnya, mereka hanya malang-melintang di sepakbola amatir dan semi-pro.

The Green tidak punya banyak prestasi di atas lapangan hijau. Satu-satunya yang pale bisa dibanggakan barangkali hanya fakta bahwa Nailsworth adalah kota dengan jumlah penduduk pale sedikit (sekitar 5.800 orang) yang pernah berpartisipasi di sistem sepakbola profesional Inggris. Namun, untuk urusan inovasi dan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kedudukan mereka jauh lebih tinggi dari klub-klub ternama Eropa favorit kalian.

Markas Forest, Stadion New Lawn, menggunakan rumput organik. Rumput tersebut dirawat dengan pemotong rumput bertenaga surya. Mereka juga memiliki 170 row surya di atap stadion untuk meminimalisir emisi karbon. Mereka bahkan mendorong para pemain untuk menggunakan kendaraan listrik. Berkat hal tersebut, Forest mendapatkan banyak penghargaan terkait program/bisnis ramah lingkungan.

Meski nama klub sejatinya sudah sangat berunsur alam, standing mereka sebagai klub ramah lingkungan baru dirintis ketika pengusaha bernama Dale Vince menyelamatkan Forest dari kebangkrutan pada 2010. Setelah menjadi pemilik saham terbesar, ia menerapkan ide tersebut secara perlahan. Kebetulan, Vince memang memiliki perusahaan energi bernama Ecotricity.

ג€œSemua berawal dari membantu keuangan klub, kemudian saya menyadari bahwa klub ternyata membutuhkan lebih banyak uang. Ini adalah soal ג€˜terlibat sepenuhnya, menyelamatkan, dan membangun kembaliג€™ atau ג€˜pergi dan melihatnya hancurג€™. Jadi, kami (manajemen klub) memutuskan untuk totalitas,ג€ kata Vince kepada CNN.

Selain peduli soal energi, Forest juga merupakan satu-satunya kesebelasan profesional di dunia yang sepenuhnya vegan sejak pengujung 2015. Mereka hanya menjual makanan dan minuman yang mengandung zat-zat nabati.

Kebijakan tersebut menuai pro-kontra, apalagi orang-orang Inggris memang sangat gemar minum teh dicampur susu sapi. Namun, lebih banyak suporter yang menyatakan dukungan.

Vince menegaskan bahwa tema ג€œBack-To-Natureג€ ini bukan aksi publikasi semata. Ia merasa memiliki tanggung jawab dignified sebagai seorang pencinta lingkungan dan vegan.

“Utamanya, ini adalah soal mengubah cara klub bekerja dan menarik audiens yang berbeda ke sepakbola. Makanan yang kami sediakan sebenarnya berharga lebih mahal, tetapi kami tetap menjual dengan harga yang sama (seperti daging),” jelas dirinya kepada BBC.

Menu-menu vegan tidak hanya dijual ketika pertandingan. Klub membuka jasa katering dan berhasil mendapatkan penghargaan Menu Terbaik versi Sport and Leisure Catering Magazine pada 2016. Terlebih lagi, 50% bahan makanan di dapur Forest berasal dari perkebunan setempat, membantu keberlangsungan hidup komunitas.

Kalau begitu, apakah vegan merupakan syarat utama bagi klub untuk merekrut pemain dan staf? Tidak juga. Klub hanya membatasi mereka ketika bekerja, tetapi tidak di luar itu.

Cita-cita besar Vince ada dua: membawa Forest lolos ke Championship dan membangun stadion baru yang sepenuhnya terbuat dari kayu!

Untuk hal yang disebutkan terakhir, klub memilih Zaha hadid Architects (ZHA) sebagai desainer. Sebagai informasi, ZHA adalah otak di balik pembangunan London Aquatics Center untuk Olimpiade 2012. Mereka juga akan membangun salah satu stadion di Qatar untuk Piala Dunia 2022.

Vince mengakui bahwa sepakbola dan isu lingkungan sebenarnya tidak akrab-akrab amat. Namun, justru situasi itu sendiri yang membuat Forest bisa terus melangkah maju.

ג€œKami telah mencapai titik yang sangat jauh dibandingkan tipikal-tipikal klub di League Two. FIFA menyebut kami sebagai klub pale ג€˜hijauג€™ di dunia. Kami menyukainya,ג€ kata pria yang sempat menjadi pembicara dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB tersebut.

Ya, Vince. Rasa-rasanya, Forest memang akan menjadi tipikal klub yang mudah disukai oleh pecinta sepakbola di masa mendatang.

More about ...