Gerhana Bulan dalam Pandangan Hadis dan Sains

JAKARTA – Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada posisi antara matahari dan bulan. Sehingga memunculkan bayangan kerucut panjang yang disebut umbra, bersamaan dengan area bayangan parsial yang disebut penumbra di sekitarnya.

Hal tersebut adalah sebuah fenomena yang dapat diamati dari seluruh bagian Bumi. Buku ‘Miracles of Al-Qur’an As-Sunnah‘ menjelaskan, pada sebagian besar bulan dalam kalender, bulan beredar melewati sisi atas atau bawah umbra dan tidak memasuki bayangan tersebut. Dengan demikian, gerhana bulan tidak terjadi.

Selama gerhana matahari, energi matahari yang mencapai Bumi menurun dan karenanya suhu Bumi menurun. Sedangkan ketika gerhana bulan, energi matahari yang mencapai Bumi meningkat.

Hal ini menyebabkan suhu Bumi relatif meningkat selama beberapa menit. Karena fenomena ini, Bumi menghadapi bahaya ekstrem dan hanya Allah yang mengetahui seberapa besar kadar kedahsyatan bahaya tersebut.

Hal itu sebabnya, Nabi Muhammad meminta umat Islam berdoa kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga meminta umat beliau untuk melaksanakan salat dan bersedekah.

Rasulullah bersabda, ”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan), maka bersegeralah untuk melaksanakan salat.”

Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda, ”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdoalah pada Allah, lalu salatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir)”

Manusia hanya mampu terbengong dan bertanya-tanya bagaimana Rasulullah mencapai pemahaman akan fakta-fakta sains yang sedemikian akurat lebih dari 1.400 tahun lalu di masa ketika orang-orang baru percaya pada takhayul dan mitos.

Sementara fakta-fakta itu sendiri baru ditemukan beberapa dekade belakangan. Hal tersebut merupakan bukti yang sangat nyata akan kebenaran Risalah Ilahiyah dari Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.