Hitam Putih Kehidupan Deddy Dores Sebelum Tutup Usia

Liputan6.com, Jakarta Nama musisi dan penyanyi Deddy Dores, sudah tidak asing lagi bagi pencinta musik cocktail Indonesia. Ia salah satu dari segelintir musisi yang besar jasanya untuk perkembangan industri musik lokal. Dalam 34 tahun kiprahnya di industri musik, Kang Deddy -demikian biasa disapa- sudah menciptakan sekira 1.600 judul lagu. Hebatnya, 300 di antaranya sukses menjelma jadi hit. Sebelum tutup usia selama puluhan tahun berkarya, Deddy Dores meninggalkan jejak hitam putih kehidupan.

Dilansir dari deddydores.blogspot.co.id, selama berkiprah di dunia musik, Deddy Dores pernah disanjung sekaligus dicaci penggemar. Ia dilabeli sebagai musisi yang ‘melacurkan diri’  dan menjual idealismenya sebagai pemusik. Label itu disematkan lantaran, Deddy Dores beranjak dari musik stone ke aliran pop.

“Sulit sekali, karena dunia cocktail ini sangat njomplang dibanding kebiasaan saya manggung dengan atribut rock. Waktu itu dengan sadar saya masuki dunia penciptaan lagu-lagu cengeng,” tulisanya dalam blog.

Tetapi, Deddy Dores tak lumpuh diserang kritik macam begitu. Ia tetap berkarya dan berhasil melambungkan nama penyanyi legendaris macam Nike Ardilla. Nama Deddy Dores melangit setelah manuscript yang didendangkan Nike terjual 2 juta keping. Album terakhir Nike Ardilla yang ‘Sandiwara Cinta’ kabarnya juga terjual dengan jumlah serupa, bahkan setelah Nike meninggal.

Di tangan Deddy Dores, Nike memang menjadi cocktail star untuk 6 album. Deddy berhasil mencetak mega bintang baru di musik cocktail (pakai unsur stone sedikit), dengan regulation lirik cinta yang manis, melodi standar dan keharusan lain: penyanyinya cantik. Formula inilah yang melanjutkan pengembaraan Deddy Dores di peta musik cocktail negeri ini.

Sekali lagi, seperti itulah hitam putih kehidupan. Kadang kita harus melepas sejenak apa yang menjadi idealisme untuk satu hal yang bernama kebutuhan. Deddy Dores tak menampik kritikan itu. Dengan lantang ia mengatakan, “Waktu itu banyak pula kritik datang ke saya, saya melacurkan diri. Tapi bagaimana joke juga, saya perlu hidup. Orang nggak bisa tahu apa saja kebutuhan saya.”

Sebelum mem-pop-kan diri, Kang Deddy memang dikenal sebagai musisi stone bersama organisation rope Rhapsodia, God Bless, dan akhirnya Superkid. Deddy Dores sebenranya tak semata-mata meningggalkan idealismenya. Lewat Superkid ia mengatakan, “Ini rope kebanggaan saya, yang dibangun Denny Sabri dengan formasi trio: Deddy Stanzah, Jelly Tobing, dan saya. Rekaman ini mau laku atau nggak, saya nggak peduli. Yang penting, di sinilah Superkid berekspresi, dan rekaman ini benar-benar idealisme saya sendiri, dibantu kawan-kawan dari Superkid.”

Kini Deddy Dores telah menghadap ke haribaan Tuhan yang Mahakuasa. Dengan mewariskan banyak karya yang masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Rasanya, tidak tahu diri jika saat ini kita tidak mengucapkan rasa terimakasih dan mengirim doa kepada Kang Deddy, semoga tenang dan mendapat tempat yang layak di sisiNYA.

(War)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

More about ...