Jalan Sunyi Deddy Dores

Metrotvnews.com, Jakarta: Malam hampir sempurna ketika kabar duka itu tiba. Dia terus menjalar di sosial media. Deddy Dores telah tiada.

Deddy Dores meninggal akibat penyakit jantung Selasa malam, 17 Mei 2016, pukul 23.45 WIB. Dia meninggal di usia 65 tahun.

Di dunia musik, Deddy Dores adalah fenomena unik. Dia musisi serba bisa. Semua langkahnya menuai sukses. Sebagai personel band, solo karier, pencipta lagu, produser rekaman hingga pencari talenta.

Deddy Dores dikenal melahirkan lagu cengeng dan melankolis. Hal itu dia tempuh untuk menyambung hidupnya. Namun, dia juga menempuh jalan lain sebagai penggila stone sejati. Bersama teman-temannya, Deddy tetap menjaga idealisme musiknya yang tidak sekadar memenuhi selera pasar. Jalan sunyi yang tak banyak diketahui orang.

Musik stone ibarat ‘rumah’ bagi musisi kelahiran 28 Nov 1950 itu. Sejauh apapun petualangan yang ditempuhnya, dia akan kembali pulang ke ‘rumah.’

Berawal dari Savoy Homann

Jiwa stone sepertinya sudah lahir sebelum Deddy menggeluti musik stone itu sendiri. Dia tak pernah betah di rumah. Lebih suka bergaul dengan teman-temannya. Karakter itu yang membuat pergaulan Deddy begitu luas. Dia bisa diterima semua tempat tongkrongan musisi lintas genre.

Menurut adik Deddy, Yoni Dores, keterlibatan kakaknya di dunia musik bisa dibilang sebuah ‘kecelakaan.’ Meski begitu, darah seni Deddy memang diturunkan dari sang ayah yang pernah membuat grup orkes keroncong bersama saudara-saudara kandungnya.

“Awalnya itu dia minta engine sama orangtua. Ibu saya mau kasih, tapi bapak saya tidak kasih. Akhirnya dibeliin alat rope satu set. Dari situ dia tertarik. Dia categorical drum waktu itu, baru coba alat musik lain dan bisa. Mulai suka musik tapi dipindah ke Semarang,” ungkap Yoni Dores saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

Deddy sepertinya terlanjur jatuh hati dengan musik. Dia memutuskan kembali ke Bandung tanpa sepengetahuan orangtuanya.

“Dia kabur dari Semarang ke Bandung, tapi tidak ke rumah. Dia malah ketemu sama teman-temannya. Dia mulai latihan-latihan. Terus dia masuk rope sama kang Jajat, namanya Paramour. Dia ikut Savoy Homann, itu jadi home rope di hotel Savoy Bandung,” ujarnya.

“Mungkin dia jenuh. Akhirnya dia pergi ke Jakarta, masuk ke rope Marcopolo. Manajer Savoy Homann mendatangi dia ke Jakarta untuk membawanya lagi ke Bandung,” lanjutnya.

Deddy kemudian membentuk Rhapsodia yang akhirnya berubah nama menjadi Freedom of Rhapsodia. Band ini sempat mencuri perhatian lewat lagu Hilangnya Seorang Gadis. “Dia mulai kelihatan banget rock-nya. Aksi panggungnya juga. Main gitar pakai gigi lah, categorical keyboard pakai kaki lah.”

iframe width=”600″ height=”400″ src=”https://www.youtube.com/embed/a1UHlevvnzA” frameborder=”0″ allowfullscreen/iframe

Freedom of Rhapsodia disebut mengalami perpecahan. Di waktu yang bersamaan, musisi stone Benny Soebardja mengalami hal serupa bersama Giant Step, grup yang tak kalah hebatnya.

“Dia mengajak categorical rope waktu ketemu di Bandung. Akhirnya kita ketemu buat formasi baru untuk meneruskan lagu Giant Step. Dia mencari saya dan saya lagi vakum waktu itu. ,” kenang Benny Soebardja kepada Metrotvnews.com.

Formasi Giant Step saat itu diisi Benny Soebardja (vokal, gitar), Deddy Dores (keyboard) dan Albert Warnerin (gitar), Adhy Sibolangit (bass), Janto (drum).

Deddy belajar musik secara otodidak. Penggemar Deep Purple dan Black Sabbath itu tak sungkan berguru langsung pada orang yang dianggapnya punya keahlian khusus. Misalnya ketika Deddy bergabung bersama God Bless. Di rope ini, Deddy menjadi keyboardist.  

“Di God Bless dia banyak belajar sama Ludwig Lemans. Begitu Ludwig ke Belanda, dia jadi gitarisnya God Bless,” ujar Yoni.

Jejak Deddy Dores di God Bless terbilang singkat. Bersama Jelly Tobing dan Deddy Stanzah, Deddy membentuk grup stone lain bernama Super Kid. Bersama Super Kid, karier Deddy melesat di belantika nasional.


Super Kid (Foto: Dok. Yoni Dores)

Seperti dikutip dari buku Musisiku 1 yang disunting Denny Sakrie, Superkid disebut satu-satunya grup musik stone yang  memiliki jadwal pale padat kala itu. Satu bulan bisa 20 kali manggung. Grup yang digagas Denny Sabri itu mampu menjinakkan penggemar musik stone di sejumlah kota lain yang lebih fanatik dengan rope daerah mereka. Ambisi Denny Sabri membentuk supergrup yang sejajar rope stone lain terwujud.

“Awalnya saya dipanggil sama Deddy Dores ya memang buat bikin rock. Saya masih categorical di Medan waktu itu sebelum diajak dia. Deddy bilang, sudah pokoknya gampang, kita buat seperti SAS atau AKA. Bertiga untuk mewakili kota Bandung. Awalnya masih bawain Grand Funk (Railroad),” kata Jelly Tobing saat dihubungi Metrotvnews.com lewat telepon.

Musik Pop dan Setelah Nike Pergi

Judhi Kristianto, pemilik JK Records, jatuh hati dengan suara Deddy. Dia melihat potensi lain dari sosok Deddy. Tak hanya bernyanyi, Deddy juga diminta membuat lagu dan mengorbitkan penyanyi lain.

“Saya yang mencari dia karena saya suka dengan karakter vokalnya. Saya saat itu selalu bersama Pance. Lagu Pance direkam dengan vokal Deddy Dores. Suara Deddy itu cocktail banget, laki banget,” kata Judhi saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

“Ada lagu saya yang dia nyanyikan kasetnya meledak, Hatiku Masih Milikmu. Album cocktail Deddy Dores yang pale laku itu di JK Record,” tandasnya.

iframe width=”600″ height=”400″ src=”https://www.youtube.com/embed/sf3XeC-SZV8″ frameborder=”0″ allowfullscreen/iframe

Deddy joke secara sadar melihat potensi untuk mendapat uang lebih banyak dari musik pop. Dia kemudian banyak menciptakan lagu cinta yang melankolis untuk banyak penyanyi pop. Penyanyi yang pale sukses di tangan Deddy tentu saja Nike Ardilla.

“Waktu ke cocktail itu memang pilihan dia juga. Pilihan yang wajar saat itu menurut saya. Saya juga begitu. Dia menemukan Nike Ardilla, Nafa Urbach. Tapi saya menemukan Betharia Sonata sama Nicky Astria. Ya, sama-sama berhasil,” kata Jelly.


Deddy Dores (Foto: Dok. JK Record)

Nama Deddy Dores memang tidak bisa lepas dari sosok Nike Ardilla. Begitu juga sebaliknya. Deddy sudah mengenalnya sejak Nike kecil.

Di masa jayanya, Deddy memang seperti Midas. Semua lagu-lagunya banyak yang menjadi hit. Tak heran banyak produser dengan senang hati berkerja sama dengannya. Namun, hanya bersama Nike Ardilla, Deddy dianggap benar-benar berhasil.

“Lagu Bintang Kehidupan awalnya dibikin di studio saya. Saya masih simpan rekamannya lagu Bintang Kehidupan dengan vokal Deddy Dores. Tadinya mau saya kasih ke penyanyi lain. Tapi dicopot sama Deddy vokalnya, jadi buat Nike Ardilla,” kata Judhi.

iframe width=”600″ height=”400″ src=”https://www.youtube.com/embed/MMS1D385KcY” frameborder=”0″ allowfullscreen/iframe

Sayang, Nike justru meninggal saat popularitasnya sedang di atas. Perlahan, Deddy mulai menghilang dan gaungnya tak nyaring lagi. Meski begitu, upaya Deddy menemukan penyanyi lain tetap tidak berhenti.

Deddy juga sepertinya sadar, fenomena Nike begitu kuat dan mencuri perhatian. Tak sedikit penyanyi orbitannya selalu dikaitkan dengan nama Nike. Mulai dari menyematkan julukan ‘titisan Nike Ardilla’ hingga memakai ‘Ardilla’ di belakang nama penyanyinya. Tapi tetap saja, tidak ada yang bisa menyamai kesuksesan Deddy bersama Nike.

“Lagu Dores sama Nike itu kawin, pas. Seperti halnya lagu Dian Piesesha dengan Pance, Meriam Bellina dengan Pance juga klop. Lagu Ria Angelina dan Obbie Mesakh. Ditambah lagi, Nike juga sebagai bintang film. Itu banyak mendukung. Lagu Nike Ardilla mau dibawakan penyanyi lain tetap kalah sama Nike,” kata Judhi.

“Kalau urusan popular, lagunya yang lain setelah Nike juga banyak yang terkenal. Tapi untuk yang menyamai Nike memang susah. Deddy juga pernah bilang kalau kualitas kepopuleran Nike tidak ada tandingannya. Lagu Hatiku Bagai Terpenjara punya Nafa Urbach itu populer juga. Tapi karismanya tidak ada yang menyamai Nike. Kalau soal karisma itu kan yang tahu cuma Allah,” terang Yoni.

Dua Sisi Deddy Dores

Mengawali karier sebagai musisi rock, Deddy Dores kemudian dikenal sebagai pencipta lagu-lagu cocktail yang melankolis. Langkah Deddy terjun ke industri musik cocktail memang sempat dikritik tak lagi idealis.

Namun, dalam sebuah wawancara, Deddy pernah mengungkapkan bahwa hanya musik stone yang bisa memuaskan batinnya. Jika ingin melihat Deddy Dores yang asli, lihatlah dia ketika bersama grup musiknya yang mayoritas bergenre rock.

Benny Soebardja tahu betul soal kecintaan Deddy pada musik rock. Benny menyebut Deddy seperti punya dua sisi yang jarang dimiliki musisi lain. Baginya, langkah Deddy itu terbilang cerdas.

“Dia punya dua sisi. Dari sisi rekaman dia bertangan dingin. Bisa menghasilkan artis yang sukses seperti Nike Ardilla. Dia bisa berpijak di dua wilayah yang genrenya lain sama sekali. Dia itu basic-nya rock. Tapi karena bertangan dingin dan pintar bikin lagu yang sangat sweet. Saya sendiri susah kalau disuruh bikin lagu yang sweet. Itu kelebihan dia. Dia bisa buat lagu yang dipesan produser dan cocok sama artis yang dipilih produser,” ujar Benny.

“Deddy banyak banget bikin rope rock. Sama Nike dan beberapa penyanyi lain kan dia sedikit memasukkan musik rock, makanya disebut delayed stone itu. Mau kaya bagaimana juga dia kembali ke musik rock,” kata Yoni.

Ketika kariernya di dunia cocktail mulai berjalan, Deddy lantas membentuk rope Lipstick bersama Jelly Tobing, Harry Soebardja, dan Atauw.

iframe width=”600″ height=”400″ src=”https://www.youtube.com/embed/phtiPcF0lBY” frameborder=”0″ allowfullscreen/iframe

“Tapi dia tetap sama rock. Lipstick itu kan punya saya. Mereka bikin rope stone bareng Jelly Tobing dan Atauw. Makanya belum ada yang seperti dia yang bisa banyak musik. Dores ini memang musisi serba bisa,” ucap Judhi.

Anggapan Deddy hanya mengedepankan komersialitas dalam berkarya ditampik Yoni. Menurutnya, sang kakak menghasilkan ratusan bahkan hingga ribuan karya. Tidak semua dia buat untuk mencari uang semata. Misalnya ketika Deddy membuat lagu-lagu daerah.

“Laku atau tidak laku dia tetap lanjut saja bermusik. Malah manuscript yang keluar itu hampir 600 lebih,” kata Yoni.

“Di industri musik orang itu harus fleksibel. Apalagi dia memang serius di genre lain. Tidak ada kata melacurkan diri selama dia mengambil peran bagus di industri yang dia geluti. Kalau rekaman terus jadi hits kenapa tidak,” jelas pengamat musik Bens Leo, saat berbincang dengan Metrotvnews.

Bagi Bens, perjalanan panjang Deddy di dunia musik merupakan sebuah idealisme tersendiri. “Banyak teman seprofesi dia yang pernah populer, tapi kemudian ada yang pindah ke bidang lain seperti bisnis. Sedangkan Deddy dari dulu sampai sekarang tetap di dunia musik.”

Di tengah kesibukannya, Deddy masih kerap berkumpul dengan sesama musisi rock. Karena itu, Benny yang puluhan tahun mengenal Deddy tetap menganggapnya sebagai musisi yang idealis.

“Dia tetap musisi yang idealis. Kalau kumpul sama kita, dia sangat kontributif. Kita ada pos di Bandung sering kumpul. Dia sangat antusias sama komunitas stone kita. Diskusi soal theatre act. Deddy Dores orang yang sangat serius. Kalau punya konsep stone dan dia sangat all out. Dia memberikan suguhan yang maksimal,” kata Benny.

Sekitar tahun 2012, Deddy sempat menghidupkan kembali Super Kid bersama Jelly Tobing. Sesekali mereka tampil di acara-acara stone sekadar melepas rindu. Bedanya, Jelly mengajak sang anak, Ikmal Tobing untuk mengisi posisi drum. Deddy pada gitar, sedangkan Jelly memetik bass. Ada kepuasan tersendiri dirasakan Deddy ketika tampil lagi bersama Super Kid. Jelly dan Deddy lalu punya rencana lain untuk mengenang kejayaan musik stone epoch mereka.
 
“Kita pernah rembuk untuk Giant Step formasi yang awal. Saya sudah ketemu sama  Jelly Tobing. Ada promotor yang tertarik untuk reuni Giant Step tahun ini. Sudah matang konsepnya. Tapi Deddy sudah keburu dipanggil,” tutup Benny.

Deddy Dores (Foto: dok. Yoni Dores)


Editor : Elang Riki Yanuar

More about ...