Janjikan Masuk Kedokteran, Oknum Dosen Unram Tipu Calon Mahasiswa

Mataram (Suara NTB) – Seorang oknum dosen Unram, HC (39) diduga menipu dan menggelapkan uang Rp 550 juta. Uang tersebut sebagai uang pelicin masuk fakultas kedokteran. Uang sudah dibayar, tapi korban tak juga diterima masuk sebagai mahasiswa.

Oknum dosen yang sudah ditahan di Rutan Polda NTB itu tak beraksi sendiri. Pria bergelar magister pendidikan itu bersekongkol dengan oknum advokat, LS (53).

HC, warga Sandik, Gunung Sari, Lombok Barat ditangkap Senin (28/8) lalu. Sementara LS, warga Sikur, Lombok Timur diamankan Kamis, 24 Agustus 2017. Masing-masing langsung dijebloskan ke penjara.

“Sudah diberi surat panggilan tiga kali untuk pemeriksaan sebagai tersangka tetapi tidak diindahkan sehingga dilakukan upaya paksa,” ungkap Wadir Reskrimum Polda NTB, AKBP Nurodin menjawab Suara NTB, Rabu, 30 Agustus 2017.

Komplotan itu dilaporkan Kahan Kampanye, warga Terara, Lombok Timur yang menjadi korban penipuan seleksi masuk fakultas kedokteran Unram, Desember 2016 lalu.

Ia menjelaskan, modus yang dilakukan para tersangka yakni menjanjikan masuk fakultas kedokteran yang dianggap prestisius. Namun, korbannya diminta untuk menyerahkan sejumlah uang terlebih dulu.

“Dua pelaku menyanggupi akan memasukkan anak korban ke fakultas kedokteran Unram. Korban sudah menyerahkan Rp 250 juta tetapi ternyata tidak lulus,” jelas Nurodin.

Aksi dua tersangka itu joke berlanjut. Korban kembali dijanjikan masuk ke perguruan tinggi berbeda, yakni fakultas kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba).

“Korban kembali dimintai uang dan diberikan korban Rp 300 juta. Namun setelah ditunggu-tunggu anak korban tidak masuk juga,” beber mantan Kapolres Lombok Tengah itu.

Akhirnya korban merasa gerah dan melapor ke polisi. Sampai kemudian dua tersangka diamankan tanpa perlawanan dan segera ditahan di Rutan Polda NTB.

Barang bukti yang menguatkan dugaan penipuan tersebut, lanjut dia, antara lain, kuitansi penyerahan uang, serta surat pernyataan antara pelaku dan korban.

Sementara itu, Wakil Rektor we Universitas Mataram bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. H. Lalu Wiresapta Karyadi, M.Si., ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 30 Agustus 2017, mengatakan secara pribadi ia baru mengetahui hal itu. Ia sudah mengonfirmasi Dekan FKIP Unram, Dr. H. Wildan, dan benar dosen berinisial HC itu merupakan dosen module studi Pendidikan Bahasa Indonesia. “Saya secara pribadi baru dengar,” katanya.

Ia menegaskan, pihaknya sebagai penyelenggara penerimaan mahasiswa baru selalu mengantisipasi penipuan, dengan menyosialisasikannya melalui media massa. Karena tingkat persaingan di Unram sangat tinggi, dan peluang untuk masuk kecil. Dengan demikian umumnya sering sekali dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Namun, katanya, memang ada kekhawatiran dari awal ada oknum yang terkadang berspekulasi menawarkan jasa agar seseorang bisa masuk ke fakultas kedokteran atau prodi tertentu dengan imbal jasa.

“Kami tentunya tidak bisa memantau sejauh mana praktik yang demikian ini terjadi, yang kami bisa lakukan adalah langkah preventif, langkah pencegahan, dengan menginformasikan ke masyarakat bahwa tingkat keketatan masuk di Unram memang tinggi,”  ujar Wiresapta.

Terkait dengan oknum dosen tersebut, Wiresapta menegaskan, pihak Unram akan memberikan sanksi sesuai dengan Undang-undang Guru dan dosen, serta peraturan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) lainnya. Termasuk kode etik dosen dan berbagai aturan lainnya.

“Kita tunggu prosesnya di penegak hukum dulu. Kami juga koordinasi dengan Dekan FKIP,” katanya.

Sementara itu, Wiresapata selaku ketua tim atau koordinator dalam setiap penerimaan mahasiswa baru menegaskan tahu persis prosesnya berdasarkan penilaian yang objektif. Ia menyampaikan, pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) itu ditentukan berdasarkan Pangkala Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dari pusat. Pada SBMPTN juga menggunakan tes tulis, yang keputusan akhirnya ada di panitia pusat.

“Tidak ada kemungkinan orang Unram bisa menentukan keputusan lulus, karena itu semua diproses di IT ITB, sebagai koordinator pengelolaan data,” katanya.

Sedangkan untuk tes mandiri, memang sepenuhnya di pihak Unram, tapi pihaknya menggunakan tim yang sangat rahasia. Dari tes mandiri sendiri tujuannya dapat menjaring lebih banyak putra daerah, tapi tidak dengan cara melanggar norma akademis.

“Kami tetap dalam asas objektivitas. Dengan demikian jangan pernah mau dibujuk rayu oleh oknum orang yang tidak bertanggungjawab, yang katanya mau menjual jasa bisa masuk ke Unram,” saran Wiresapta. (why/ron)

BACA BERITA LAINNYA :

More about ...