Kemang Terancam Digusur Setelah Adanya Normalisasi Sungai Krukut

INDOPOS.CO.ID – Data Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyebutkan Sungai Krukut memerlukan normalisasi pada area sepanjang 84 kilometer. Mulai dari Waduk Brigif di Jagakarsa hingga wilayah penggabungan arus Kali Krukut dan Kali Ciliwung di ruas Banjir Kanal Barat di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Di sepanjang wilayah itu, terdapat 761 bangunan yang perlu dibebaskan. Sebagian bangunan tersebut berada di wilayah Kemang, Jakarta Selatan. Meski sudah direncanakan sejak lama, namun normalisasi Kali Krukut belum juga terlaksana. Sampai saat ini, pemerintah belum menentukan kapan waktu normalisasi Kali Krukut akan dilakukan.

“Sementara ini kita lagi mau lihat normalisasi yang akan dibuat oleh Kemang Village, semisal pembuatan sungai seperti alam. Untuk bangunan kita akan lihat garis sepadan sungainya, kalau melanggar kita tertibkan,” ujar Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi saat dikonfirmasi terkait progres normalisasi Kali Krukut, kemarin (20/7).

Tri mengatakan, penertiban akan dilakukan sebagai kelanjutan dari pengerjaan proyek normalisasi Sungai Ciliwung. “Kami (setelah ini) akan bergeser untuk normalisasi Kali Krukut. Tinggal tunggu rekomendasi dari BBWSCC (Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane),” kata Tri.

Menurutnya, lokasi pertama yang bakal ditertibkan adalah kawasan permukiman yang berada tepat di belakang Kemang Village. Namun berbeda dengan kawasan lainnya yang sudah terdampak normalisasi, penataan kawasan di sepanjang Sungai Krukut ini akan dilakukan dengan mengembalikan bantaran sungai ke bentuk semula.

“Nanti di belakang Kemang Village itu akan seperti alam. Jadi tidak akan dipasangi piece raise seperti yang lain,” kata dia dilansir INDOPOS (Jawa Pos Group).

Tri mengatakan, pengerjaannya akan dibiayai oleh pengembang yang berdiri di sekitar Sungai Krukut. Menurutnya, pengembang memiliki kewajiban untuk membenahi lingkungan di sekitar Sungai Krukut. Wacana melanjutkan proyek normalisasi Sungai Krukut ini sudah mencuat sejak masa kepemimpinan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. Kali Krukut dianggap sebagai biang keladi utama wilayah chosen di kawasan Kemang sering tergenang saat musim hujan.

Penyebabnya adalah penyempitan lebar sungai akibat aksi penyerobotan terkait pembangunan rumah mewah, hotel, tempat usaha, dan bangunan lainnya di bantaran Krukut, Kemang. Hal ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.

Sementara itu, normalisasi Kali Krukut, dari bibir Kali Krukut itu sendiri akan terkena pelebaran kali lima scale pada bagian sisi kanan dan kirinya. “Namun sejauh ini belum ada informasi kapan mau dilakukan dan biasanya RT dan RW ngasih tau. Ini belum,” ujar Bogel, 29, warga Jalan Pela Mampang, RT 009/011, Kelurahan Mampang Prapatan, Kecamatan Mampang Prapatan.

Menurutnya, di RT 15/11 juga banyak bangunan yang akan terkena dampak normalisasi Kali Krukut. Informasinya, kalau yang tidak punya surat-surat kemungkinan tidak diganti. “Tapi kalau ada suratnya ya harus diganti dong,” katanya.

Tapi baik dari RT, RW setempat, belum ada informasi pemberitahuan kapan waktu normalisasi Kali Krukut itu akan dilakukan. “Kalau pihak Kelurahan sudah memberi tahu. Tapi sama kapan waktunya juga belum tahu,” tutup dia.