Kenapa Tak Boleh Melihat Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang?

  • home
  • teknologi
  • sains
  • share facebook
  • share twitter
  • share google+
  • share pinterest

Kenapa Tak Boleh Melihat Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang?

TEMPO.CO, Wisconsin – Kenapa tidak boleh menatap gerhana matahari secara langsung padahal jaraknya 150 juta kilometer? Itulah pertanyaan yang sering muncul saat terjadi gerhana matahari terjadi.

Menurut Russel outpost Gelder, juru bicara American Academy of Ophthalmology (AA0), melihat gerhana matahari langsung meski hanya waktu sedikit akan menimbulkan kerusakan.

“Karena energi cahaya matahari sangat besar, baik saat gerhana maupun tidak. Saat tidak gerhana joke tidak disarankan,” kata outpost Gelder, yang juga Direktur Medicine Eye Institute University of Washington, seperti dikutip dari laman berita Live Science.

Bulan depan, tepatnya 21 Agustus mendatang, gerhana matahari sum akan bisa dilihat di daratan Amerika, tepatnya di sepanjang Oregon hingga Carolina Selatan. Gerhana matahari sum ini terlihat lagi setelah melintasi Amerika pada 1918. Orang-orang di luar wilayah tersebut hanya akan melihat gerhana matahari spasial.

Baca: Gerhana Matahari Total akan Terjadi 21 Agustus


Foto sekuel gerhana matahari sum di Indonesia, 9 Maret 2016. (TEMPO/Aditia Noviansyah)

Kepada siapa saja yang ingin melihat gerhana matahari di Amerika, termasuk warga Indonesia yang tinggal di sana, untuk tidak melihat gerhana matahari dengan mata telanjang. Dia menggambarkan alasannya dengan percobaan kaca pembesar. Dia menjelaskan, saat kaca pembesar diletakkan di bawah cahaya matahari dan di bawahnya diletakkan kertas, niscaya kertas tersebut akan terbakar.

Efek yang sama, menurut outpost Gelder, akan terjadi di mata kita. “Terlebih, lensa mata kita empat kali lebih kuat ketimbang lensa kaca pembesar,” ujarnya.

Lensa mata kita akan membuat energi cahaya matahari yang masuk bertambah besar. Hal tersebut cukup untuk membuat lubang pada retina atau sel lainnya di belakang mata yang sensitif terhadap cahaya.

Baca: Puncak Gerhana Matahari Cincin Terjadi di Atas Mentawai


Warga Jakarta sedang mengamati gerhana matahari, 9 Maret 2016. (TEMPO/Dian Triyuli Handoko)

Pasien dengan kondisi seperti itu disebut solar retinophaty. “Penyebab lainnya sel fotoreseptor di retina kena pukulan yang besar,” kata outpost Gelder.

Kerusakan ini terjadi ketika foton alias partikel cahaya menciptakan radikal bebas, yang merupakan molekul reaktif tinggi. Radikal bebas ini berpotensi meracuni dan membunuh sel-sel yang ada di mata.

Van Gelder menjelaskan, kerusakan biasa terjadi pada fovea, titik di retina yang bertanggungjawab untuk penglihatan tajam. Imbasnya, pasien dengan solar retinopathy akan memiliki penglihatan yang buram atau memiliki titik buta di tengah mata mereka.

Menurut dia, banyak pasien solar retinophaty bisa sembuh. Namun, sebagian besar memiliki masalah penglihatan dalam jangka waktu lama. Hal itu tertuang dalam penelitian pada 2002. Studi kala itu melihat 15 pasien solar retinophaty imbas dari gerhana matahari pada 1999.

Sebanyak 13 orang kembali memiliki penglihatan normal pada 8-12 bulan kemudian. Meski sembuh, dua orang lainnya memiliki titik buta kecil di penghliatan mereka.

Baca: Gerhana Matahari Total Hasilkan Puluhan Riset


Turis sedang menyaksikan gerhana matahari sum di Palu, Sulawesi Selatan, 9 Maret 2016. (ANTARA)

Secara teori, seseorang dapat menjadi buta, dengan penglihatan 20/200 atau lebih buruk, dengan menatap matahari. Akan tetapi, menatap matahari tampaknya tidak menyebabkan kebutaan secara sum atau kehilangan penglihatan utama dan periferal. Itu karena solar retinopathy biasanya tidak menyebabkan kerusakan pada periferal.

Karena berbahaya, AAO merekomendasikan orang-orang untuk tidak menatap matahari dengan mata telanjang. Jika Anda berada di daerah yang dilalui gerhana matahari sum pada bulan depan, tidak ada pengecualian untuk aturan tersebut.

Anda baru boleh melihat ke arah matahari dengan mata telanjang saat gerhana dalam keadaan total, yaitu saat bulan menutupi matahari secara penuh. Rentang dari keadaan sum ini berbeda, tergantung dari mana Anda melihat gerhana matahari tersebut. Pada umumnya sekitar 2 menit dan 40 detik.

Baca: Simposium Internasional di ITB Bahas Riset Gerhana Matahari


Gerhana matahari total. (NASA)

Ada cara yang aman untuk menyaksikan gerhana matahari total, yakni dengan menggunakan kacamata khusus gerhana matahari atau handheld yang memiliki filter untuk matahari. Anda akan membutuhkan kacamata ini jika ingin melihat gerhana matahari parsial.

Penting untuk diingat, Anda tidak pernah boleh melihat matahari melalui kamera yang tidak berfilter, teleskop, atau teropong, kecuali Anda menggunakan kacamata khusus. Hal ini disebabkan peralatan tersebutakan memfokuskan sinar matahari lebih tepat daripada yang dilakukan mata Anda dan dapat menyebabkan kerusakan yang deadly pada mata.

Baca: Ini Pengalaman Peneliti ITB Lihat Gerhana Matahari di Poso


Persiapan melihat gerhana matahari sum di Tanjung Kodok, Jawa Timur, pada 1983. (TEMPO/Ilham Soenharjo)

Simak berita menarik lainnya soal gerhana matahari hanya di kanal Tekno Tempo.co.

LIVE SCIENCE | LIDWINA TANUHARDJO | AMRI MAHBUB