Keseimbangan Tiga Unsur Besi Membuat Keris Bisa Berdiri

Karena itulah, jika kebanyakan masyarakat yang memiliki keris hanya meletakkannya disuatu tempat, dan baru akan dikeluarkan ketika akan diupacarai, seperti pada saat Tumpek Landep. Nah upacara inipun tak lepas kaitannya dengan keyakinan masyarakat Bali yang menganggap keris tersebut memiliki nilai sakral. Padahal menurut dia, keris sama halnya dengan leluhur yang mestinya dirawat dan dijaga, serta dibersihkan (ngereresik) pada hari-hari tertentu, tidak hanya diupacarai saat Tumpek Landep saja.

Sebagai pembuat keris yang sudah bertahun-tahun dekat dengan keris, Pande Margi meyakini, setiap keris memiliki jiwa. Bahkan dia mempercayai jika keris bisa berbicara. “Kalau keris bisa berbicara saya percaya. Namun seperti manusia biasa, artinya tidak semua keris bisa seperti itu. Misalnya keris bertanya, apakah sudah dihaturkan sesajen atau belum,” imbuhnya.

Margi menjelaskan, apabila dirinya ingin berbicara kepada keris miliknya, maka keris tersebut akan dikeluarkan dari sarungnya, kemudian keris diketukkan tiga kali pada sarungnya dan kemudian mengucapkan salam. “Tapi tidak boleh sembarangan mengambil keris, harus permisi dulu mengucapkan salam. Kalau keris itu memang bisa berbicara, pasti akan bisa berkomunikasi dengan keris itu,” lanjutnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pada umumnya keris yang dia buat terdiri atas 3 bagian yakni dapur, pamor dan pakem. Yang disebut dapur adalah bentuk keris, sedangkan pamor merupakan design pada keris, sedangkan pakem adalah kegunaan keris. “Dapur keris bisa dilihat dari jumlah luk (lekukan). Kalau 9 berarti dapurnya sabuk inten. Lalu lihar pamor (motif pada keris) ada yang ngulit semangka, kalau ditelusuri simbol kulit semangka itu, melambangkan kerejekian, menolak bala,” sambung Pande Margi.

Sementara itu, sebagai Mpu Keris yang juga dikenal dengan karya keris yang bisa berdiri, Margi mengatakan, sesungguhnya keris yang bisa berdiri bukanlah hal yang langka. Menurutnya keris yang bisa berdiri karena keseimbangan antara bahan yang digunakannya yakni tiga unsur besi.

Pada umumnya keris akan dilakukan pengolahan pada Saniscara Kliwon Wuku Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan Bali atau enam bulan sekali waktu kalender atau yang biasa disebut Tumpek Landep. Hal ini sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manisfestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.

Sebagai seorang Pande Besi, Margi senantiasa melakukan protocol pengodalan di Pura Pande yang ada dirumahnya serta di Perapen (tempat perapian untuk Pande Besi,Red). Namun sebelum diberikan pengodalan, terlebih dahulu dia akan melakukan protocol nyiramang terhadap keris miliknya menggunakan atmosphere kumkuman lengkap dengan berbagai macam bunga. Setelah itu keris dibersihkan (ngereresik) dengan minyak cendana, sebelum kemudian diberikan banten pengodal. Begitu juga peralatan pande miliknya, salah satunya adalah Culik Api.

Adapun bebantenan yang biasa dia gunakan ketika Tumpek Landep yakni Tebasan Pasupati Punjung Brahma. Umumnya juga digunakan Sesayut Pasupati berupa tumpeng barak amusti, kulit tebasan antuk enclose andong 1 ring ajeng tumpange daksina, ring bilang samping tumpenge kulit peras medaging tumpeng barak dua, soda ajengan penek barak 2, tipat kelan, tipat tampulan asiki, sampeyan nagasari penyeneng peras canang antuk enclose andong. Maulam ayam biing (barak) jeroan megoreng wadah taku, takir keruh meserana kacang saur. matah apalet anggen ring segehan pasupati. Serta Segehan Agung Pasupati yang berupa peras barak sodan barak (sampeyan canang enclose andong). Daksina tampi serobong, ketipat kelan, nasi kepelan 9 kepel metatakan enclose andong medaging ulam jeroan matah 9 takir raung ring sowang-sowang. Asep 9 katih, nasi wong-wongan barak 5, api takep 5.

Keahlian turun temurun menjadi Pande Besi telah digeluti Margi sejak tahun 1992. Bahkan di Banjar Pande Batu Sangian ada ratusan KK yang juga menggantungkan hidup sebagai pande. Sebagai seorang Mpu Keris, dirinya sudah melayani pesanan dari seluruh Bali dan beberapa di luar negeri, mulai Belanda hingga Timor-Timor. Tak heran, keris buatannya sudah tidak diragukan lagi.

Keris yang dipesan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti sebagai milik pribadi hingga digunakan untuk pejenengan alias disungsung. Hanya jika keris dibuat untuk pejenengan diperlukan banten pejati dan dewasa ayu. Sedangkan untuk keris yang dibuat untuk kepentingan pribadi, tidak menggunakan dewasa ayu. “Untuk keris pejenengan panjangnya berkisar dari 22 hingga 25 sentimeter, ukuran 20 sentimeter untuk seselet, dan 10 sentimeter kebawah untuk pribadi,” terangnya.

Keistimewaan keris buatan Margi terletak pada unsur yang digunakan. Dirinya menggunakan tiga unsur besi yang disatukan, yakni unsur besi Brahma, besi Wisnu (besi ireng) dan besi Iswara (besi Pamor) dengan lapisan pale rendah sebanyak 35 lapisan. Dari mulai pembuatan hingga berakhir, keris juga harus melalui tiga kali upakara. 

(bx/ras/wid/yes/JPR)

More about ...