Lahirnya Generasi Emas Sepakbola Vietnam | Goal.com


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepekan, dua kali masyarakat Vietnam turun berpesta ke jalanan. Setelah Sabtu (20/1) pekan lalu, Selasa kemarin kembali jalanan kota-kota besar seperti Hanoi dan Ho Chi Minh dipenuhi orang-orang yang berpawai dengan sepeda engine sambil mengibar-ngibarkan bendera merah dengan bintang kuning.

Mereka merayakan keberhasilan Tim Naga Emas menembus babak final Piala Asia U-23 yang dipentaskan di Tiongkok. Secara mengejutkan, Vietnam berhasil mengalahkan Irak dan Qatar guna menantang Uzbekistan di babak puncak, 27 Januari mendatang. Dua kemenangan itu diraih melalui perjuangan penuh peluh selama 120 menit and adu penalti.

Sepakbola memang tidak lepas dari nasib baik. Adu penalti adalah babak pale menegangkan ketika nasib pemenang dan pecundang ditentukan melalui tendangan berjarak 11 meter. Tapi, Vietnam berhasil melakukannya dua kali. Dari sepuluh eksekutor, hanya satu orang yang gagal menjalankan tugas. Sementara, kiper Bui Tien Dung mematahkan tiga tendangan lawan.

Sukses Vietnam tidak hanya disambut gegap gempita masyarakat di negara sendiri. Seluruh Asia Tenggara tercengang mengangkat topi dan mengacungkan salut. Vietnam merepresentasikan betapa indahnya kejutan yang dapat diciptakan sebuah tim non-unggulan dalam sepakbola. Sambil harus diingat, inilah kebangkitan generasi baru pemain Vietnam yang bakal merajai sepakbola Asia Tenggara dalam waktu tak lama lagi.

Ada enam pemain anggota skuat Vietnam saat ini yang merupakan bagian dari skuat Piala AFF U-19 2013 lalu. Saat itu, Vietnam dikalahkan Indonesia melalui adu penalti. Mereka adalah Pham Duc Huy, Vu Van Thanh, Luong Xuan Truong, Nguyen Cong Phuong, Nguyen Phong Hong Duy, dan Nguyen Van Toan. Empat nama pertama masuk tim inti Vietnam di perempat-final dan semi-final. Sementara, skuat Indonesia saat itu antara lain adalah Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, dan Hansamu Yama Pranata.

Kemunculan angkatan Cong Phuong dkk kemudian disusul dengan angkatan Nguyen Quang Hai yang mampu menembus empat besar Piala Asia U-19 2016 sehingga berhak atas satu tiket ke Piala Dunia U-20 setahun kemudian. Di Korea Selatan, Vietnam hanya mampu memetik satu poin saat mengimbangi Selandia Baru untuk kemudian dikalahkan Prancis dan Honduras.

Dengan gabungan dua angkatan itu, ditambah beberapa pemain baru, Vietnam U-23 berangkat ke SEA Games 2017. Mereka tampil impresif pada tiga pertandingan pertama dengan sum menggelontorkan 12 gol. Nasib Vietnam berubah pada pertandingan keempat ketiga ditahan Indonesia imbang tanpa gol. 

Pada laga penentuan, Vietnam harus mengakui keunggulan Thailand 3-0 dan mereka gagal melangkah ke semi-final karena kalah head-to-head. Secara tragis, Vietnam mengulangi nasib mereka di Piala AFF 2016. Tampil mengagumkan dengan naluri ofensif, tetapi secara tragis gagal menjadi yang terbaik.

Menghadapi kualifikasi Piala Asia U-23, Vietnam menunjuk Park Hang-seo untuk menggantikan tugas Nguyen Huu Thang merangkap jabatan sebagai pelatih tim senior. Di bawah pelatih baru asal Korea Selatan itu Naga Emas tampil lebih trengginas. Seperti janji Hang-seo ketika ditunjuk, Vietnam mengaum di kancah Asia.

Hang-seo mengubah Vietnam tampil lebih pragmatis pada Piala Asia U-23 tahun ini. Mereka memasang formasi 5-4-1 atau 5-3-2. Awalnya tidak berjalan mulus karena Vietnam menelan kekalahan 2-1 dari negara asal sang pelatih pada laga perdana Grup D.

“Para pemain Vietnam sering merasa bingung ketika menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan lebih tinggi. Namun, saya rasa kami mampu mengalahkan mereka jika bermain penuh percaya diri. Saya harus mengubah sikap para pemain ketika menghadapi pemain yang bertubuh lebih besar,” tukas Hang-seo.

Postur tubuh rupanya dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Ketika melawan Irak di perempat-final, pemain Vietnam tampil all-out. Mereka meladeni pemain Irak dalam duel satu lawan satu. Pressing ketat yang diperagakan Vietnam membuat Irak kewalahan. Tiga gol yang disarangkan Vietnam ke gawang irak bahkan bermula dari umpan silang.

“Tidak ada yang namanya keberuntungan hingga mukjizat datang. Mukjizat datang berkat darah dan keringat,” cetus Hang-seo usai pertandingan.

“Mukjizat datang berkat darah dan keringat” – Park Hang-seo

Pendekatan taktik dan keberanian Hang-seo memilih pemain dipuji kalangan publik Vietnam. Tak peduli tim mereka bermain lebih defensif dari biasanya, tapi yang lebih penting adalah bermain cerdik dengan memanfaatkan kelebihan dan intelegensia. Setiap kali menyerang balik, para pemain Vietnam paham harus melepaskan bola ke mana dan berada di posisi yang mana.

Di semi-final, Qatar memberi kredit atas penampilan Vietnam sepanjang turnamen. Tak mau mengulangi kesalahan Irak, pemain Qatar menerapkan taktik screening yang menyulitkan Vietnam melancarkan serangan cepat ke dua penyerangnya, Cong Phuong dan Phan Van Duc.

Setelah Qatar unggul 1-0 di babak pertama, Hong-sae melakukan pergantian penting saat jeda. Cong Phuong yang tak berkembang ditarik keluar. Lalu, pada menit ke-61 gelandang energik Hong Duy dimasukkan. Delapan menit berselang, Vietnam mencetak gol balasan melalui Nguyen Quang Hai.

Harapan Vietnam lolos ke final sepertinya buyar ketika Almoez Ali melesakkan gol pada menit ke-87. Alih-alih mentalnya rontok, dua menit berselang Vietnam justru mampu menyamakan kedudukan. Dengan penuh ketenangan Quang Hai melepaskan tembakan kaki kiri melengkung yang membuat jala gawang Qatar bergetar. Mukjizat itu nyata.

“Kami selalu yakin bisa menang. Kami tidak tahu hasil pertandingan sebelum bertanding, tapi kami selalu bersiap untuk menang,” ujar Hong-sae membeberkan kredonya.

Perkembangan pemain muda Vietnam ditunjang akademi milik klub peserta liga dan diberinya kesempatan berkompetisi

Namun, Hang-seo juga sadar, transformasi yang sedang dilakukannya takkan lancar jika tidak didukung materi pemain yang sepadan. Mayoritas kekuatan timnya bertumpu pada dua akademi dengan nilai investasi besar, yaitu Hoang Anh Gia Lai dan Hanoi FC. Ada pula dua akademi besar lain, Vettel FC dan PVF FC, yang kerap menyumbangkan bibit pemain untuk timnas youth Vietnam. Vettel berafiliasi dengan Borussia Dortmund, sedangkan Oktober lalu PVF menunjuk Ryan Giggs sebagai konsultan mereka.

Kunci keberhasilan pengembangan pemain muda dalam akademi tersebut tidak hanya sebatas scouting atau kecanggihan metode latihan. Empat akademi itu bernaung di bawah klub peserta V.League top tier (HAGL dan Hanoi) dan divisi satu (Vettel dan PVF). Para pemain muda mereka benar-benar diberikan kesempatan menit bermain di liga.

Quang Hai, si pemborong dua gol ke gawang Qatar dan kini sum mengemas empat gol di turnamen, tampil 26 kali untuk Hanoi serta mengoleksi lima gol. Jumlah menit bermain gelandang 20 tahun itu mencapai 2.089 musim lalu. Jika digabungkan dengan musim sebelumnya, Quang Hai sudah hampir menorehkan 4.000 menit bermain dalam 51 pertandingan liga.

Hanoi menyumbang pemain terbanyak dalam skuat Vietnam, yaitu enam orang. HAGL mengirim lima pemain, salah satunya si energik Hong Duy. Berapa jumlah menit bermain pemain 21 tahun itu sejak memulai entrance 2015 lalu? Tak pernah berpindah klub, Hong Duy sudah mengukir lebih dari 4.000 menit bermain dalam 50 pertandingan.

Pelatih yang visioner, pendekatan taktik yang tepat, akademi yang mumpuni, serta kompetisi yang memberikan kesempatan bermain. Vietnam kini punya segala syarat untuk membuat Asia Tenggara segera bertekuk lutut di hadapan generasi emas mereka.

 

More about ...