Leonard ‘Nyo’ Kristianto Merawat Cinta JK

MESKI telah terbang jauh, sang burung akhirnya kembali ke sarangnya juga. Leonard Kristianto menempuh pendidikan tata suara hingga Amerika, membuat grup musik dan menekuni musik jazz dan funk. Akan tetapi sekembalinya ke tanah air, dia akhirnya jatuh cinta pada lagu lagu melankolis juga, cocktail mendayu dayu dan memuja cinta.

Sebagai anak Judhi Kristianto, pendiri JK Record, Leonard Kristianto alias Nyo merasa terpanggil untuk melestarikan dunia yang sudah dibangun ayahnya,

“Padahal Papa nggak ngarep saya meneruskan bisnis musik, “ katanya kepada Pos Kota dalam obrolan akrab, baru baru ini. Pria yang biasa disapa dengan Nyo ini, menghidupkan kembali JK Records, perusahaan bapaknya, setelah dua dekade vacum dari industri yang bergelimang publisitas.

Kuliah musiknya di Berkeley College of Music, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), hingga menjadikannya musisi handal Nyo kini melanjutkan bendera bendera JK Records untuk generasi “kidz di zaman now”.

Seperti halnya epoch JK Records 1980-1990an, Nyo juga menjual dagangan yang sama: “Kisah Cinta Wanita”.

Disadari olehnya, meski artis artis JK banyak yang beralih ke bisnis lain dan “pensiun” lagu lagunya tetap disukai. Di ruang karaoke, lagu lagu Pance dan Obbie Mesakh, Dian Piesesha dan Meriam Bellkina, yang berjata di epoch 1990-an tetap dinyanyikan.

Dicubiti Artis

Nyo masih bocah ketika papanya mengalami kejayaan dan dia bergaul dengan artis artis kondang itu. Wartawan comparison yang meliput debate uncover artis JK Record dari dekat menggambarkan ketika Nyo kecil ditowel towel pipinya oleh Chintami Atmanegara, Meriam Bellina dan artis artis cantik dari JK Record lainnya.

Anak kecil itu kini sudah tumbuh dewasa dan menjadi direktur musik. “Mereka adalah tante tante yang saya sayangi, “ katanya, dengan tawa.

“Kita sudah memasuki epoch digital. Sekarang ini, secara mengglobal, baik lagu maupun film sudah berteknologi digital. Bukan lagi konvensional. Jika tidak segera ikut memulai, akan tertinggal, “ katanya.

Popularitas JK Record di masa lalu menjadi modal untuk melestarikan dan mengembangkannya di epoch Youtube kini. “Ingat Musik Pop, Ingat JK Records” adalah semboyan bagi pecinta musik 1980-90-an.

Lagu-lagu epoch 1980 – 1990an masih digemari. Hampir seluruh lagu penyanyi JK Records seperti: Dian Piesesha, Pance Pondaag, Obbie Meshak, Wahyu OS, Meriam Bellina, Deddy Dores, Helen Sparingga dan lainnya, masih didengar orang. Baik usia dewasa maupun remaja

Jadi Kisah Nyata

“JK Record masih punya fans setia, “ katanya. Dia kenangkan, pertemuan dengan sesama eksekutif yang gila JK, bahkan membawa lagu lagu JK dalam perjalanan hidupnya. “Ada suami yang ninggalin isteri karena terpikat wanita lain. Lalu mendengar lagu Pance, ‘Kucari Jalan Terbaik’ akhirnya pulang ke rumah. Rukun lagi dengan isterinya, “ kata Nyo.

Menurut Nyo, fans JK merupakan fans yang setia. “Seluruh manuscript produksi JK Records mereka punya. Tergantung siapa penggemar artis siapa. Sampai sekarang pun, JK-mania itu selalu menunggu produksi terbaru kami, “ kata direktur tag yang berkantor di Jl Musi – Jakarta ini.

Merunut pada pengalaman ayahnya , pada awal pembentukan JK Record, ayahnya tak mengira bisa meledak dan melegenda hingga sekarang, terawat dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Karena itulah saya berani memakai code (nama usaha) itu, sekaligus tentunya lagecy (warisan) orangtua, “ kata Nyo.

Sebagai akademisi, Nyo joke pernah riset ke lokasi-lokasi kuliner di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. “Ternyata para pengamen di lokasi itu yang rata-rata berusia remaja hapal benar lagu-lagu Pance, Obbie, Dian Piesesha dan penyanyi JK lainnya. Begitu pula yang makan, ikut bersenandung. Ini luar biasa buat saya. Ternyata lagu keluh kesah masih disukai banyak orang di epoch digital ini, “ ungkapnya dengan tawa.

Merujuk pada pendidikan Amerikanya, Nyo mengaku meski saya jebolan perguruan tinggi musik terkenal di dunia, tapi susah mempelajari musik produksi JK Records. “Tiga bulan lebih saya pelajari musik yang dibuat oleh pemusik JK Records. Saya belajar dari nol lagi tentang lagu-lagu itu, “ katanya.

“Kedengarannya sederhana, tapi setelah dipelajari ternyata sukar. Saya nggak munafik, atau jumawa mentang-mentang lulusan sekolah musik Amerika, jujur saya katakan lagu JK Records memang susah, “ paparnya.

“Malah saking susahnya, saya sempat ngomong sendiri, ini lagu-lagu JK maunya seperti apa sih? Selama tiga bulan lebih saya sendiri melakukan mastering (transfer dari analog ke digital) ribuan. Sampai akhirnya saya paham betul musik dan tema lagunya. Sekaligus mengerti tentang lagu yang banyak digemari dan kurang diminati masyarakat, “ kata Leonard Kristianto. – dimas

More about ...