Maudy Ayunda Gemar Menulis Sejak Belia

Maudy Ayunda baru saja memulai lang­kah baru di dunia kepenulisan lewat buku perdana “Dear Tomorrow”, tapi dia sudah punya rencana lain untuk menerbitkan lebih banyak karya tulis.

“Agak nyeleneh, (proyek barunya adalah) buku anak,” kata Maudy dalam peluncuran buku “Dear Tomorrow” di Jakarta, kemarin.

Proyek ini muncul ketika Maudy bertukar pikiran dengan penerbit yang mengetahui bahwa sang penyanyi sudah gemar menulis sejak belia. Ketika masih duduk di bangku SD, pemilik nama lengkap Ayunda Faza Maudya ini bahkan sudah menulis be­berapa cerita pendek.

Beruntung, tulisan-tulisannya saat itu ternyata masih disimpan rapi oleh sang ibu. Karya-karya tersebut yang akan jadi sumber cerita untuk buku keduanya yang ditujukan bagi pembaca muda. Se­lain menulis kisah fiksi anak, Maudy kecil juga senang menulis jurnal harian. Segala pelajaran yang mengharuskannya untuk menulis esai adalah pelajaran favoritnya.

“Aku suka banget sastra Indonesia, sastra Inggris, sejarah. Aku suka ilmu sosial, aku suka nulis esai atau berargumentasi atau me­nyampaikan pesan lewat tulisan,” papar Maudy.

Maudy baru meluncurkan buku perdana “Dear Tomorrow” yang berisi buah pikirannya mengenai hidup, cinta dan cita-cita. Buku berisi esai pendek, daftar lagu, puisi hingga kutipan dibuat dengan format pengingat untuk masa depan agar bisa memo­tivasi tanpa menggurui pembaca.

Tulisan-tulisannya diatur sedemikian rupa sehingga pembaca bisa membacanya secara runut atau acak. “Dear Tomorrow” dibuat dengan format seperti kapsul waktu, pengingat untuk dirinya di masa depan.

Lulusan jurusan Politics, Philosophy and Economics (PPE) yang dipelajarinya di Uni­versitas Oxford, Kerajaan Inggris ini mengaku belum ada keinginan ma­suk ke dunia politik, tapi aku tetap peduli sama apa yang terjadi.

Gadis bernama lengkap Ayunda Faza Maudya masih tertarik menggeluti dunia kreatif dalam jangka pan­jang. Entah itu di bidang musik, akting atau penu­lisan seperti yang baru dirintisnya saat ini.Di luar seni, Maudy juga peduli terhadap isu pendidikan In­donesia. Campur tangannya kelak, kata Maudy, bisa dilakukan dari jalur akademis, termasuk rencana kembali ke universitas untuk mendapatkan gelar S2 di bidang pendidikan.

“Mungkin ambil child psychology, juga ada ruang untuk tempat lain, misal­nya jadi backpacker boat Trinity,” kata­nya, merujuk pada penulis/blogger transport yang karya­nya diadaptasi ke film “Trinity, The Nekad Traveler” dan diperankan Maudy. Ant/S-2

More about ...