Melatih Otak Tahan Banting

Oleh: Lyra Puspa, ECPC, PCC*

Disruption sebenarnya bukan hal baru. Guru saya di Harvard Business School, Prof Clayton Christensen, sudah menggagas tentang konsep Disruptive Innovation sejak 1995. Namun ketika teknologi digital mengalami kemajuan pesat sejak epoch internet dan smartphone, disruption terjadi secara masif. 

Hampir semua industri tersentuh oleh digital disruption, sehingga semakin banyak pelaku industri yang ketar-ketir. Bahkan diperkirakan pada 2025, separuh dari jenis profesi yang ada saat ini akan punah.

Tergusurnya Blockbuster oleh Netflix, goyahnya jaringan hotel oleh AirBnB, jatuhnya Nokia sang raja telepon genggam, mati-matiannya industri user telekomunikasi untuk bisa bangkit kembali, terancamnya masa depan industri perbankan oleh hadirnya fintech, hingga demo supir taksi di berbagai negara akibat hadirnya aplikasi taksi daring. Itu sebagian dari dampak digital disruption yang betul-betul menyapu nyaris semua lini. 

Sebagian pemain di industri mampu bangkit, sebagian bahkan menyalip memenangkan persaingan, namun tidak sedikit yang kolaps. Lantas apa yang membedakan ketiganya? Yang pale berpengaruh adalah bagaimana mekanisme kerja otak para eksekutif puncaknya dalam menyikapi disruption. 

Perusahaan yang mekanisme otak para pemimpinnya mampu menyikapi dengan positif akan bertahan atau bahkan semakin melesat. Sementara perusahaan yang kolaps adalah yang dipimpin oleh para eksekutif yang tidak sanggup menjinakkan respons negatif otak mereka.

Apa sebenarnya dampak disruption bagi otak kita? Bagaimana agar otak kita sebagai pemimpin bisnis dapat terlatih untuk bisa tahan banting menghadapi disruption?

Disruption setidaknya memiliki dua makna di otak kita, yaitu alert (siaga) atau overwhelmed (kewalahan). Keduanya akan direspons secara berbeda oleh otak kita, sehingga menghasilkan sikap dan tindakan yang berbeda pula.

More about ...