Pemakan Matahari – Cerpen Daruz Armedian

NUSANTARANEWS.CO – Akan ada suatu hari di mana Bethorokolo datang dan memakan bulan. Dan akan ada suatu hari di mana ia muncul lagi lalu menelan matahari.

Hari itu, mahkluk pale dibenci di kampung kami muncul sebelum orang-orang berangkat kerja. Ia telah mencicipi tepi matahari. Wajahnya yang hitam, giginya yang hitam, mulutnya yang hitam, rambutnya yang hitam, atau lebih gampangnya, kesemuanya yang hitam itu memperlihatkan wajah mengerikan.

“Bethorokolo muncul lagi.” Desis Salihen, tetangga sebelah rumahku. Ia kenal betul pada makhluk itu. Bethorokolo adalah mahkluk halus yang tidak halus, artinya bisa dilihat secara nyata tetapi entah sebagai kabut atau sebagai makhluk-makhluk absurd dan bukan seperti jin-jin atau setan-setan yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Ia muncul kalau mendung tebal penuh petir menakut-nakuti petani yang sibuk di sawah, atau waktu surup-surup (tepat adzan maghrib) menakut-nakuti anak-anak, atau hari-hari yang telah ditentukan Tuhan. Kalau ia muncul dan tidak menakut-nakuti siapa pun, maka biasanya ia akan memakan bulan atau matahari.

Seperti hari itu. Ia akan memakan matahari.

Tak membutuhkan waktu yang lama dan penjelasan panjang lebar, orang-orang mulai ke luar rumah. Mereka memandang ke langit dengan amarah.

“Rupanya setelah memakan bulan beberapa bulan kemarin, Bethorokolo masih belum kenyang. Ia hendak menelan matahari.” Ungkap salah satu orang yang menolak dituliskan namanya di sini. Ya, Bethorokolo memang tidak akan pernah kenyang. Sebab setelah makan, ia selalu memuntahkan kembali makanan itu. Oleh karena itulah, sampai sekarang bulan dan matahari masih ada. Bethorokolo seolah-olah memakannya meski tak benar-benar memakan.

Sayup-sayup telingaku menangkap suara kentungan diketuk bertalu-talu. Seperti biasa, mereka hendak mengusir mahkluk jahat itu. Kadang-kadang suara kentungan terselip juga suara panci, basi, dandang yang ditabuh oleh ibu-ibu dapur. Bethorokolo adalah makhluk ‘nggowo ciloko’ pembawa celaka, kata mereka.

Bethorokolo, Bethorokolo, minggiro-minggiro, minggato-minggato, srengengeku gage ndang lepehono.” (Bethorokolo, Bethorokolo, minggirlah-minggirlah, minggatlah-minggatlah, matahariku cepat muntahkanlah.) Begitulah nyanyian yang berulang-ulang mengiringi kenthungan. Itu kalau siang hari memakai ‘srengenge’, kalau malam hari memakai ‘mbolan’.

Dan akhirnya Bethorokolo benar-benar melumat habis matahari, keadaan menjadi gelap, seperti malam hari. Tetapi justru karena itu, orang-orang sudah mulai gembira, sebab dari dulu mahkluk itu tak pernah menelan matahari dengan sungguh-sungguh. Saat itulah matahari akan bersinar kembali setelah keluar dari perut si pemakan dirinya.

Tetapi, semua sudah menjadi masa lalu. Hari ini, aku tak lagi melihat orang-orang membawa kentungan dan bernyanyi ketika terjadi peristiwa semacam itu. Segalanya berubah ketika negara maju menyerang dengan memasok dengan alat-alat elektronik yang canggih. Misalnya pagi ini, aku melihat banyak orang-orang sibuk menghadapkan kamera ke arah matahari. Memotretnya dan kemudian meng-upload ke dunia lain—dunia maya, katanya. Aku tidak tahu di mana letak dunia maya itu.

Tak ada yang berpikir kalau Bethorokolo itu sangat jahat. Ia mungkin akan marah wajahnya difoto dan diedarkan ke seluruh penjuru dunia. Dan kau tahu, ketika ia sangat marah, yang kutakutkan hanyalah matahari itu ditelan sungguhan. Betapa dunia ini akan gelap gulita selamanya?

Atau jangan-jangan sudah banyak yang tidak percaya adanya Bethorokolo? Aku lihat sekarang menjelang maghrib, anak-anak masih suka bermain. Tidak mengaji ke langgar-langgar untuk berdoa agar Bethorokolo tidak menghantuinya. Kasihan betul nasib Bethorokolo jika hal itu terjadi. Ia tidak lagi dianggap ada.

“Kakek, semua itu cuma mitos.” Kata cucuku yang sekarang kelas lima sekolah dasar. Sebentar lagi akan naik kelas enam.

“Apa itu mitos, Cu?”

“Cerita khayalan, cerita buat-buatan, yang tidak ada gunanya jika dipercaya.”

“Tapi sekarang ada buktinya kalau itu bukan cerita buatan. Tuh,” aku menunjuk matahari yang hilang separuh, “matahari itu dimakan Bethorokolo, Cu.”

Tetapi, cucuku ini memang pintar ngomong. Maka sudah kuduga ia akan meneruskan omongannya.

“Bukan dimakan, Kek,” katanya sambil menatapku dengan serius, “itu gerhana matahari. Jika bulan berada di tengah-tengah garis lurus antara bumi dan matahari, maka akan terjadi gerhana matahari. Matahari ditutupi bulan jika dilihat dari bumi. Aku tahu dari buku Ilmu Pengetahuan Alam.” Aku tak paham apa yang diomongkannya.

Aku memilih diam saat ini. Anak-anak sekarang sudah pandai mengarang cerita. Ketika hal ini kuomongkan pada Cok Pintal, temanku dari kecil yang sudah pernah merantau ke Jakarta, ia membantah habis-habisan omonganku.

“Kamu itu yang tenggelam dalam cerita, Mar,” ungkapnya serius, seserius cucuku saat memandangku, “zaman sekarang sudah modern. Bethorokolo itu cuma omong kosong. Buyut-buyutmu telah berbohong!” kali ini ia berkata sambil mengelus-elus hape layar sentuh (katanya).

“Kamu ketinggalan zaman, Mar.”

**

Setelah itu, kau pasti akan bertanya bagaimana kelanjutan cerita ini. Apakah Mar akan tetap keras kepala memegang kepercayaannya atau menyerah pada zaman? Tentu saja aku tak akan menghakhiri cerita ini. Sebab, siapa tahu cerita ini ada di dunia nyata, entah di mana. Dan aku tak perlu mengarang-ngarang alurnya. Tentang pemakan matahari itu sebetulnya kau sudah tahu.**

 

Daruz Armedian, lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Menjadi mahasiswa filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis tetap di tuban.org

Komentar

Recommended for you

  • What pleasing | Mongolian art | Art ZayaWhat pleasing | Mongolian art | Art Zaya
  • The superb oil paintings of Sergei Marshennikov 3The superb oil paintings of Sergei Marshennikov 3
  • Ilustrasi sebuah lukisan berjudul Schizophrenia oleh Cikolatali Waffle around sintayudisiaIlustrasi sebuah lukisan berjudul Schizophrenia oleh Cikolatali Waffle around sintayudisia