Peringkat Utang Lippo Turun, Analis Lebih Was-was Soal Meikarta

Jakarta – Moody’s Investors Services menilai PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tengah menghadapi persoalan keuangan hingga rating perusahaan dan obligasi comparison yang terbitkan anak usahanya turun. Namun pelaku pasar menilai Lippo menghadapi hal lain yang lebih penting, kelanjutan proyek Meikarta.

Meikarta sendiri merupakan proyek milik anak usaha LPKR yakni PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Tahun ini perusahaan menargetkan bisa membangun 18 building dari sum 92 building yang akan dibangun.

Menurut Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee hal itu menimbulkan pertanyaan bagi pelaku pasar. Bagaimana perusahaan memperoleh dana untuk memenuhi kebutuhan dana untuk membangun 18 building tersebut.

“Menurut teman-teman pengembangan 18 building itu butuh Rp 5-6 triliun. Sementara isu yang beredar di pasar katanya financier Tiongkok menarik diri karena cost marketing-nya besar sekali. Itu memang harus dikonfirmasi,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (20/6/2018).

Besarnya kebutuhan dana untuk proyek Meikarta dipandang Hans tidak sejalan dengan prospek bisnis Meikarta ke depannya. Sebab dengan harga apartemen mulai dari Rp 127 juta dianggap terlalu murah.

“Waktu awal harga jualnya terlalu murah, domain tipis. Mungkin ingin agar laku diawal baru ambil keuntungan di akhir. Tapi ini kan ada yang harus di-delivery 18 tower,” tuturnya.

Sebelumnya pada 1 Juni 2018, Moody’s Investors Services telah menurunkan peringkat obligasi comparison atau comparison note yang diterbitkan anak usahanya Theta Capital Pte Ltd sebesar US$ 75 juta atau setara Rp 1,04 triliun (kurs Rp 13.900) dari B1 ke B2.

Penurutan peringkat obligasi comparison itu seiring dengan penurunan rating perusahaan LPKR dari B1 menjadi B2 dengan opinion negatif.

Riset Moody’s juga mencatat pada 31 Maret 2018, 79% sum utang Lippo Karawaci tidak dijamin. Mayoritas pinjaman Lippo Karawaci berada di perusahaan induk.

Melansir information RTI, saat ini sum liabilitas LPKR mencapai Rp 27,71 triliyn dengan ekuitas Rp 29,93 triliun. Dengan catatan itu maka Debt Equity Ratio (DER) perusahaan di turn 0,92 kali. Hans menilai rasio utang tersebut masih dalam batas aman.

“Tapi mungkin yang dicatat Moody’s hanya utang yang terlihat di buku tapi ini ada kewajiban smoothness (pembangunan 18 building Meikarta),” tegasnya.

(ang/ang)

More about ...