Pilpres 2019 Berlangsung Keras, Bursa Saham Melemas

Oleh Ir Bagus Panuntun MBA, CFP, CPEP

Financial Astrologer

“IT’S a economy, stupid” merupakan lingo yang cukup sukses pada kampanye Bill Clinton dalam mengalahkan rivalnya George HW Bush pada medio 90-an di Amerika Serikat (AS). Ini menunjukkan kenyataan, perekonomian juga merupakan faktor penting yang memengaruhi elektabilitas seorang kandidat presiden.

Seperti banyak dikeluhkan kalangan pebisnis, perekonomian Indonesia selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup stagnan, ditandai dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melorot.

Sebagian diakibatkan karena faktor tellurian penguatan “United States Dollar (USD) Index” terhadap kebanyakan mata uang dunia, sebagian lagi diakibatkan oleh lemahnya daya ekspor nasional.   

Pernah kami ulas sebelumnya, siklus penguatan USD Index tersebut disebabkan karena siklus komoditi tellurian yang cenderung melemah (Astrologi Keuangan 2016:Bursa Melemah, Ekonomi Lesu Darah: http://fiskal.co.id/berita/fiskal-14/6722/astrologi-keuangan-2016:bursa-melemah,-ekonomi-lesu-darah#.WuQeQ0xuK5x).

Adapun, karena keterkaitan perekonomian (ekspor) Indonesia yang kental diwarnai oleh komoditas, maka prediksi kami di atas terkait global miscarry commodity pada pertengahan-akhir 2017, terbukti benar. Perlu dicatat, tulisan tersebut kami unggah pada akhir 2015! Subhanallah, Alhamdulillah.

Seperti tulisan kami sebelumnya juga, fokus Presiden Jokowi (http://rilis.id/kekuatan-dan-kelemahan-joko-widodo) adalah pada kenyamanan, dan kemapanan.

Baca juga: Kekuatan dan Kelemahan Joko Widodo

Hal ini tercermin jelas dari hasil kerja kabinet Jokowinomics selama 5 tahun terakhir yang ditandai dengan turunnya tingkat kemiskinan dan pengangguran, walaupun penurunan tersebut harus dibayar dengan peningkatan jumlah rasio utang Nasional. Hal ini seperti ditunjukkan pada tabel 1 di bawah.

Tabel 1: Hutang Pemerintah, Kemiskinan, dan pengangguran. ILUSTRASI: Ist

Walaupun tren angka penurunan kemiskinan dan pengangguran di atas cukup menggembirakan, tapi pertanyaanya adalah: apakah tren penurunan tersebut sustainable, mengingat sebagian atau seluruhnya penurunan tersebut dibiayai oleh peningkatan utang nasional?

Bursa Saham dan Kurs Tukar Rupiah menjelang Pilpres 2019

Dari sekian banyak non-static ekonomi, kami memilih dua indikator utama di dalam sistem ekonomi, yaitu Bursa dan Kurs Tukar Rupiah. Karena kedua non-static tersebut adalah leading indicator (indikator muka) dalam suatu sistem ekonomi, sedangkan coincident dan lagging indicators, seperti angka pengangguran, kemiskinan, dan lain sebagainya akan kami tampilkan pada review kami berikutnya.

Indikator muka pada umumnya dapat menjadi petunjuk terhadap external event, seperti perubahan politik, bencana alam, dan lain sebagainya.

Plato, filsuf Yunani yang hidup sekitar 2.500 tahun yang lalu (+/- tahun 400 S.M), dalam kitabnya Timaeus menyatakan “waktu dan ruang terhubung oleh angka” (time and space are connected by numbers).

Financial Astrologer (Astrolog Keuangan) juga menganut prinsip yang sama dalam menghasilkan proyeksi variabel-variabel pada dunia keuangan. Sekalipun teori ini dilahirkan ribuan tahun silam, ketepatan prediksi metode ini melebihi dari kekuatan komputasi ekonom complicated dengan segala perkakasnya, termasuk indication ekonometrika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang lainnya.

Outlook Bursa Saham pada saat dan seusai Pilpres 2019

Fokus tulisan kami saat ini adalah untuk melihat respons Bursa Saham pada saat dilangsungkannya dan setelah Pilpres 2019. Ulasan mengenai kurs tukar USD/IDR akan kami review pada edisi berikutnya.

Berdasarkan sejarah bursa saham Indonesia, mengutip dari www.idx.co.id, tercatat Bursa Efek Indonesia (BEI) didirikan pada 14 Desember 1912 di Batavia sebagai bagian dari armada trading VOC.

Karena lesunya perdagangan di Bursa sehubungan dengan kompleksitas asset send dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, maka BEI diaktivasikan kembali oleh Presiden Soeharto pada 10 Agustus 1977. Tabel Bursa Efek Indonesia ditampilkan pada gambar 2 di bawah.

Gambar 2: Reaktivasi Bursa Efek Indonesia. ILUSTRASI: Ist

Sejalan dengan teori Plato, para pujangga di Babilonia dan Mesopotamia beberapa abad sebelum masehi juga mencatat adanya interkoneksi antara bintang, waktu dan bilangan. Semisal, tanggal peresmian ulang BEI (10/08/1977) jika dijumlahkan memiliki angka 6 yang diasosiasikan dengan world Venus.

Sejarah mencatat salah satu marketplace pile-up terbesar pada BEI terjadi pada akhir 2007-2008 yang disebabkan oleh krisis keuangan tellurian yang mengakibatkan indeks BEI anjlok 60 persen dari turn 2,800-an di 2007 ke turn 1,100 an pada 2008.

Pada masa ini solar return tabel BEI juga menunjukkan kondisi Venus yang berkonjungsi (conjunct) dengan Saturnus –yang berkonotasi sangat bearish.

Demikian pula halnya dengan solar lapse BEI pada 2008 yang kali ini bertemakan world Neptunus, juga masih bearish dengan Neptunus membuat sudut 90 derajat dengan bulan. Hal ini diperlihatkan pada gambar 3 di bawah.

Tabel 3: Market Crash 2007-2008, dan Venus berkonjugsi dengan Saturnus. ILUSTRASI: Ist

Sebaliknya setelah badai reda, dan Index juga menunjukkan fase pemulihan pada 2009, tabel BEI juga merespons dengan ascendant Leo yang diiringi dengan Matahari naik dan bersinar di ufuk timur!

Tabel 4: Solar Return BEI 2009 dengan Sun Rising. ILUSTRASI: Ist

Lantas bagaimana halnya dengan kondisi Bursa menjelang masa Pilpres 2019? Berdasarkan jadwal dari Komite Pemilihan Umum (https://infopemilu.kpu.go.id/), Pilpres 2019 akan dilakukan pada Apr 2019, sedangkan pelantikan presiden dan wakil presiden dijadwalkan pada 20 Oktober 2019. 

Bursa di Apr 2019

Pada saat dilangsungkannya pemungutan dan penghitungan suara di Apr 2019, tema utama Bursa akan diwarnai dengan tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi dari para pelaku pasar, investor, spekulan, dan lainnya.

Hal ini ditandai dengan Mars, Pluto dan dan Saturnus yang bertengger di sektor ke-10 (sektor yang mewakili leadership atau kepemimpinan). Tampaknya, akan ada tiga kandidat yang bersaing cukup ketat. Kombinasi Mars-Saturnus-Pluto juga identik dengan unsur militer.

Tabel 5: Masa mencekam di Bursa terkait Pilpres 2019. ILUSTRASI: Ist

Berdasarkan lunation dari gerhana matahari yang akan terjadi di Januari 2019, tema lain yang akan menjadi fokus pelaku pasar adalah sektor keuangan yang memburuk yang ditenggarai dengan peningkatan DER (debt to equity ratio), debt use coverage ratio (DSR) para emiten, ataupun menurunnya EPS (earning per share) dari para perusahaan Tbk yang diakibatkan oleh elemental perekonomian yang kurang mendukung. 

Secara keseluruhan, psikologi para pelaku pasar yang tercermin pada IHSG (Indeks Saham Gabungan) akan bullish menjelang Pilpres 2019. Proyeksi emotional swing dari pelaku pasar dapat dilihat pada tabel 6 di bawah.

Tabel 6: Emotional Swing pelaku pasar menjelang dan setelah Pilpres 2019. ILUSTRASI: Ist

Dari IHSG diperkirakan menguat pada periode Januari–Maret 2019, akan tetapi pada saat periode dilangsungkannya Pilpres 2019 dan setelahnya, tampaknya akan terjadi opening dari kandidat yang terpilih yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kemungkinan lainnya adalah ekspektasi pasar terhadap kandidat Pilpres akan sesuai dengan harapan tetapi elemental ekonomi melemah yang disertai dengan meningkatnya ketidakpastian di perekonomian tellurian (meningkatnya intensitas perang di Syria, maupun perang dagang AS-Cina).

Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi pelaku pasar dalam berinvestasi di 2019.

Wallahualam Bissawab.

More about ...