Potensi Wisata Erupsi Gunung Berapi di Indonesia

Gunung Sinabung memuntahkan abu vulkanik terlihat dari desa Tiga Serangkai, Sumatra Utara, 1 Apr 2015. AP Photo/Binsar Bakkara
(Ilustrasi) Gunung Sinabung memuntahkan abu vulkanik terlihat dari desa Tiga Serangkai, Sumatra Utara, 1 Apr 2015. AP Photo/Binsar Bakkara

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Gunung meletus ataupun gunung yang sedang erupsi tak melulu bercerita kesedihan dan sebuah fenomena bencana alam. Erupsi gunung memiliki potensi wisata minat khusus. Indonesia yang memiliki banyak gunung berapi tentu memiliki potensi tersebut.

“Berita bencana gunung api itu seolah-olah mengerikan, padahal disana ada potensi yang bisa kita gali melalui wisata,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Dari catatan BNPB, Indonesia memiliki setidaknya 127 gunung api aktif. Dan fenomena gunung meletus tidak terjadi di seluruh dunia. Sehingga perlu adanya kiat untuk mempromosikan wisata gunung api Indonesia kepada masyarakat global.

“Kita langka loh melihat suatu gunung meletus mengeluarkan awan panas, lava dan sebagainya. Anda lihat di Malaysia, nggak ada disana gunung api. Australia nggak punya gunung api, tapi kita punya banyak,” ungkapnya.

Ia menyarankan agara promosi wisata gunung api tersebut harus digencarkan. Seperti dari Kementerian Pariwisata yang dapat mengembangkan masalah gunung meletus menjadi wisata, karena nilai jualnya luar biasa.

Kemudian ia mencontohkan, seperti ketika adanya gerhana matahari sum yang terjadi di Indonesia pada Maret 2016 lalu. Banyak turis mancanegara yang datang untuk menyaksikannya.

“Waktu gerhana matahari total, berduyun-duyun orang datang untuk mengabadikan, mendokumentasikan gerhana matahari yang hanya berjalan kurang dari satu jam,” kata Sutopo.

Di Indonesia, wisata bencana gunung berapi pernah dilakukan di Gunung Sinabung, Sumatera Utara dan Bromo, Jawa Timur. Sejak berstatus Awas pada 2015 lalu, Gunung Sinabung tak berhenti meletus dan sejumlah wisatawan mancanegara datang ke Sumatera Utara demi melihat letusan tersebut. Begitu pula yang terjadi di Gunung Bromo pada 2010.

Fenomena alam gerhana matahari sum Maret tahun lalu juga berhasil menjadi magnet bagi sejumlah wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

Berdasarkan pantauan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 19 pintu masuk mancanegara, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat 3,36 persen ketimbang bulan sebelumnya dari 863.130 menjadi 892.200 pengunjung.

Ketika Gunung Bromo meletus pada 2010, ia mengatakan juga banyak turis mancanegara yang mengabadikan momen tersebut. Namun dengan catatan, untuk menyaksikan erupsi gunung api tentu harus dengan berbagai pertimbangan.

“Kita semua gunung di Indonesia sudah memiliki peta kawasan rawan bencana, selama masyarakat berada diluar radius tadi (diluar zona bahaya), aman,” ucapnya.

Kemudian tempat untuk menyaksikan erupsi juga harus berlawanan dengan arah angin. “Kalau misal Gunung Agung meletus pada bulan sekarang ini, berarti arah angin akan ke timur. Ya ngeliatnya jangan dari timur, kena abu semuanya. Tapi dari sisi barat,” terangnya.

Sutopo menambahkan, jika Gunung Agung meletus, BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah mengukur daerah yang terkena dampak dari letusan.

“Jadi gunung agung ini, kalau meletus kita sudah tahu perkiraan letusannya, daerah yang berdampak hanya sembilan sampai 12 km. Artinya turis lain, turis yang melihat diluar zona itu aman,” katanya.

Menurut Sutopo, asalkan wisata bencana tersebut dilakukan dengan sejumlah syarat. Pertama, turis tetap berada di zona aman di luar wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB). Semua gunung memiliki peta wilayah KRB. Kedua, lokasi turis berada berlawanan dengan arah angin. Ketiga, untuk mengurangi resiko, pengunjung harus tetap sadar bencana dan mengenali bahaya gunung berapi.

Terdapat dua sudut pengambilan gambar Gunung Agung yang menarik. Pertama dari sisi laut, yaitu radius 25 kilometer sisi timur ke utara dengan potensi lanskap lontaran batu pijar dari kawah Gunung Agung, dan 35 kilometer dari sisi utara ke timur wisatawan dapat menangkap siluet Gunung Batur dengan lanskap latar belakang (background) erupsi Gunung Agung.

Dari sisi darat, terdapat empat titik menarik, salah satunya dari Pura Lempuyang. Meski begitu, kata Sutopo, potensi wisata ini masih kurang sosialisasi. Buktinya, alih-alih menambah, jumlah wisatawan justru menurun.

Diperkirakan terdapat kerugian ekonomi Rp1,5-2 triliun selama 34 hari standing Awas Gunung Agung. Dari sektor wisata merugi sekitar Rp264 miliar, sektor perbankan Rp1,05 triliun, hilangnya pekerjaan para pengungsi Rp204,5 miliar, sektor pertanian, peternakan dan kerajian tak kurang dari Rp100 miliar, sementara berhentinya aktivitas pertambangan, pembangunan di Karangasem dan kerugian lainnya sekitar Rp200-500 miliar.

Lebih lanjut, dalam membahas gunung meletus bukan hanya semata-mata tentang musibah, tetapi selalu ada berkah dibalik musibah tersebut. Sutopo mencontohkan letusan Gunung Kilauea di Hawaii, Amerika Serikat. Turis mancanegara berduyun-duyun demi melihat keindahan letusan gunung tersebut. “Informasi soal potensi wisata kalah beredar ketimbang berita menyeramkan dan informasi hoaks,” tandas Sutopo.

Pewarta: Richard Andika
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar

More about ...