Siapa Pantas Jadi Juara Euro 2016?

Pesta sepakbola Eropa itu akhirnya sudah mencapai babak pamungkas. Tidak terasa, Euro 2016 telah bergulir selama satu bulan lamanya. Dari laga pembukaan pada 10 Juni di Stade France hingga dipungkasi pada partai final pada 10 Juli di tempat yang sama. Sepanjang 30 hari tersebut, ada pekik kemenangan, derai atmosphere mata, dan tentu saja kejutan.

Portugal, yang hanya duduk sebagai peringkat ketiga di fase grup, mampu melenggang ke partai puncak pada Senin (11/7) dini hari WIB, untuk menantang Prancis. Sang tuan rumah tentu lebih difavoritkan dan dianggap lebih layak juara jika menilik performa mereka dari hari pertama hingga kini. Tapi benarkah demikian?

Goal Indonesia mengajak pembaca sekalian untuk menentukan siapa yang pale layak menjadi kampiun Euro 2016, apakah si buruk rupa Portugal atau si cantik Prancis. Namun sebelumnya, mari kita simak perdebatan antara dua jurnalis kami, Yudha Danujatmika dan Sandy Mariatna.

 

Menanti Padang Bunga di Ujung Jalan Berliku

Perjalanan tim juara tak pernah mudah dan selalu berliku, tapi selalu berakhir dengan elegan. Lihat saja perjalanan Spanyol di Piala Dunia 2010, Jerman di PD 2014, atau Yunani di 2004. Mereka kesulitan menghadapi tim-tim yang tidak diunggulkan, bahkan tersandung dalam beberapa kesempatan sehingga mendapat sejuta kritik. Namun pada akhirnya, tim juara membuat semua bungkam.

Portugal kiranya mengalami hal yang nyaris sama selama Euro 2016 ini. Tidak pernah menang dalam pertandingan 90 menit sejak fase grup hingga babak perempat-final, Seleccao banyak dikecam. Kemenangan Cristiano Ronaldo dkk joke dianggap sebagai keberuntungan belaka. Apalagi kemenangan atas Polandia diraih lewat adu penalti.

Adapun pelan-pelan, anak asuh Fernando Santos menunjukkan kualitas sebagai tim yang lapar gelar. Perjuangan hingga akhir terus ditunjukkan walau performa para pemain berada di bawah rata-rata. Keberuntungan yang didapatkan tentu saja tidak bisa lepas dari faktor kerja keras tersebut, sebagaimana sang pelatih turut memutar otak untuk mengantisipasi situasi terburuk di lapangan.

Puncaknya, Portugal bersinar di semi-final kontra Wales. Seleccao tampil gemilang sepanjang laga, menunjukkan dominasi di sana-sini. Ronaldo yang dilempari kritik bahkan ikut pulih nama baiknya berkat satu gol dan satu assist. Kemenangan dua gol tak berbalas diraih bersama tiket ke final dan itu menunjukkan betapa tangguhnya Seleccao dari bawah mistar hingga ujung tombak.

Santos tampaknya tidak sekadar memilih nama besar dan menurunkan pemain hebat di Euro 2016. Pelatih Portugal itu telah membangun fondasi kuat bernama “mental juara” dan Portugal mengaplikasikannya dengan rasa lapar luar biasa. Memang, performa kadang bicara sebaliknya, tapi kerja keras tak pernah berbohong. Itulah yang didapat dari fase grup hingga semi-final: Portugal inkonsisten, tapi selalu bertahan menerjang badai dan melakukan tugasnya di momen yang pale tepat.

Selalu ada padang bunga di ujung jalan berliku. Dan melihat lika-liku yang dilalui Portugal, kiranya tidak perlu terkejut jika nanti Ronaldo menggendong trofi internasional perdananya.

Yudha Danujatmika

 

Sang Ksatria Tampan Ingin Ulangi Sejarah

32 tahun berlalu sejak Michel Platini menginspirasi Prancis merengkuh trofi internasional perdananya. 18 tahun berlalu sejak Zinedine Zidane dua kali menanduk bola sepak pojok ke gawang Brasil untuk membawa Les Bleus menjadi juara dunia.

Ada dua persamaan besar dalam kejayaan Prancis di Euro 1984 dan Piala Dunia 1998 itu, bahwa mereka melakukannya di kandang sendiri ditambah dengan mencuatnya satu aktor protagonis. Dua alasan berbau sejarah itu barangkali sudah cukup bagi Antoine Griezmann dkk. untuk mencitrakan diri sebagai tim yang pale layak mencium trofi Henri Delaunay di Euro 2016.

Euro 2016 datang di saat yang kurang tepat bagi Prancis. Persoalan pengungsi di Eropa, kondisi perekonomian negara yang tidak stabil, isu mogok kerja, dan tentu saja ancaman teroris. Bahkan, skuat Prancis joke dilanda krisis, yakni terkait skandal video seks yang melibatkan Karim Benzema dan Mathieu Valbuena. Tapi, sepakbola sekali lagi terbukti sebagai obat dari segala beban kehidupan.

Masalah-masalah di atas seakan buyar seketika saat publik Prancis menyaksikan performa timnas kesayangan mereka di sepanjang musim panas ini. Pelatih Didier Deschamps mampu meramu tim yang sukses melebih ekspektasi.

Menjadi juara grup, mencetak 13 gol, dan bermain indah, Les Bleus melangkah ke Saint Denis bagaikan seorang ksatria tampan yang memenangi duel dengan lawan-lawannya secara elegan. Dari merajang si anak bawang Islandia hingga mempermalukan sang juara dunia Jerman.

Prancis tinggal butuh satu peragaan cantik lainnya — melawan Portugal di Stade de France — untuk menyempurnakan petualangan mereka di turnamen ini. Demi nama Platini, Zidane, dan bendera Tricolore. 

Sandy Mariatna

Menurut Anda, siapa yang pale pantas menjadi kampiun Euro 2016? Sampaikan pendapat Anda dalam kolom komentar di bawah ini!

 

More about ...