TEI 2017, BNP2TKI Siap Kirim 300 Tenaga Kerja ke Australia



TANGERANG – Event pameran dagang terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) yang ke 32 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang. Rencananya, pagelaran yang menampilkan sekira 300 produk unggulan dalam negeri itu akan berlangsung selama 5 hari, yaitu dari hari Rabu 11 Oktober hingga 15 Oktober 2017.

Pameran dagang TEI dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi tadi. Tingginya antusiasme peserta dari perusahaan dalam dan luar negeri, membuat pemerintah memproyeksikan jika kegiatan tersebut dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi nasional.

 Baca juga: Nasihat Jokowi ke Mendag dan Eksportir: Perhatikan Kualitas Produksi hingga Pengiriman Barang!

Sebagai lembaga yang juga terlibat di dalamnya, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) langsung menjaring peluang kerjasama yang terbentuk. Salah satunya dengan pihak swasta negara Australia.

“Inikan sebenarnya kita membantu module pemerintah dalam penempatan tenaga kerja. Dalam keadaan ini, kita ingin menempatkan tenaga kerja kita ke Australia. Tentunya kita juga memastikan bahwa tenaga kerja yang kita kirimkan, nanti memenuhi ability yang dibutuhkan di sana,” terang Elia Rosalina, Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI usai penandatanganan MOU tersebut.

 Baca juga: Top! Sarang Walet Kualitas Terbaik Asal Indonesia Siap Ekspor ke China

Dijelaskan oleh Elia, sesuai pengarahan dari Presiden Jokowi, maka kini BNP2TKI harus membuka perluasan kerja International di tempat yang baru. Artinya, penempatan para pekerja tak lagi hanya di beberapa negara langganan. Dengan demikian, beberapa negara lain di kawasan seperti Australia akan menjadi tujuan penempatan tenaga kerja baru.

“Jadi kami melakukan MOU satu kerjasama penempatan 300 tenaga kerja untuk sektor Hospitallity. Jadi yang diminta oleh perusahaan luar itu adalah penempatan di hotel dan restauran. Karena acara (TEI) ini kan berlangsung sampai hari Jumat (15/10/2017), tentu masih banyak peluang dari Buyer, perusahaan asing yang memposting ‘demand’ untuk membuka peluang-peluang di tempat baru itu,” imbuhnya.

 Baca juga: Ekspor Peternakan RI Naik 22%, Mentan: Termasuk Babi ke Singapura

Namun Elia joke mengakui, bahwa bekerja di Australia tidaklah mudah. Kesulitan dalam penggunaan berbahasa Inggris, masih menjadi salah satu hal yang perlu disikapi berikutnya.

“Pengalaman kami kemarin saat menggarap di Australia, Ada ‘Gap’ dalam kemampuan bahasa. Misalnya di saat ada penempatan untuk 100 orang disana, ternyata 80 orangnya tidak lulus bahasa Inggris, bukan nggak bisa, hanya 20 orang yang lulus. Oleh karena itu kami akan mengupgrading Skill berbahasa sesuai permintaan,” ungkapnya.

Sementara, Duta Besar Indonesia untuk Australia Y. Kristiarto S. Legowo menjelaskan, hingga saat ini tercatat ada sekira 60-70 ribu warga Indonesia yang berada di Australia. Dari angka itu, hanya 10 persennya yang terdokumentasi bekerja di beberapa tempat.

“Kalau kita ingin masuk bekerja di rumah orang (Australia), pastinya kita juga harus memenuhi standar Skill yang dibutuhkan, inilah tantangannya. Sehingga permintaan untuk bekerja di sana akan meningkat seiring dengan kualitas SDM-nya,” jelasnya di lokasi yang sama.

(rzy)

More about ...