Tidak Mudah Melihat Allah

 

Fajarnews.com- Iringan musik saxophone Kenny G pada malam sunyi mementahkan kembali perjalanan panjang. Bahwa kematian tak pandang usia. Ya, failing immature alias mati muda dengan lengkingan tiupan saxophone musisi berambut jabrik itu, sepertinya menjadikan kita tahu bahwa batas usia tidak pernah izin atau permisi, memohon pamit untuk pergi.

Terlalu banyak waktu tersia-sia hanya untuk kesenangan semu. Terlalu banyak waktu tersita demi keinginan tak pasti. Dan terlalu banyak waktu tersisa tanpa sebuah perbuatan terpuji, baik untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Lengkingan musik saxophone Kenny G bagai lengkingan batin menerobos malam sunyi, minta disedekahi amalan-amalan mulia sebelum jiwa terpisah dengan raga. Lengkingan itu joke serasa minta diziarahi oleh ingatan atas kasih Tuhan, akan kebesaran Ilahi atas berbagai kemudahan hidup selama ini. Ia minta diziarahi agar sang perenung sadar, betapa perjalanan hidup ini tidak ingin berakhir mati muda, failing young.

Dalam malam senyap, udara nan sepoi tanpa suara, lirih terdengar seruan pertobatan. Ia seperti berkata, “Jangan kau umbar terus nafsu duniawimu. Ingatlah Tuhan tidak pernah tertutup oleh apa pun, kecuali karena keyakinanmu yang berubah-ubah (tak tentu arah) tentang Tuhan. Atau karena hatimu cenderung kepada hal-hal  yang bersifat fisik semata. Ya, materi lebih kamu suka daripada keimanan kepada Tuhan. Juga kamu beribadah semata-mata hanya untuk mencapai surga”.  Suara itu semakin lirih dan hampir hilang ditelan senyap. Namun getarnya terasa menghunjam dada.

Tiga hal sebagaimana dinukil pada kitab Iqodzul Himam dalam bab tasawuf pembahasan mengenai Allah SWT, malam itu dijelaskan Sutejo Ibnupakar dengan berbagai contoh yang mudah dipahami. Alumni pesantren Babakan Ciwaringin dan Buntet Cirebon itu joke melanjutkan hal keempat sebagai penghalang manusia tidak bisa “melihat” Allah SWT. Keempat ialah lantaran keraguan atas dasar pandangan manusia akan keberadaan Allah yang maha segalanya. Artinya Allah SWT tidak akan terhalang oleh apa pun.

Dengan mempelajari proses gerhana matahari misalnya sebagai proses alam, manakala bayang-bayang bulan masuk dan menghalangi cahaya matahari. Matahari tetap ada tetapi terhalang oleh bulan. Analoginya, Allah SWT ada namun terhalang oleh empat hal di atas. Inilah tauhid sebagai ajaran yang dibawakan seluruh Nabi dan Rasul bagi manusia. Tauhid dengan sifatnya yang bernama Allah Centris yang memusatkan seluruh perilaku hanya kepada-Nya. Bagai gaya sentrifugal yang menarik seluruh garis gaya ke satu titik, memusat. Dan begitulah manusia seharusnya memusat/ terpusat hanya kepada Allah swt.

Mengurai satu per satu empat hal yang menghalangi kegagalan manusia melihat Allah, melepasnya lantas kembali tersadar bahwa sesunggunya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik (dan nonfisik) pale sempurna (ahsani takwim) maka harapan memperoleh bashirah (mata batin) insyaallah akan didapat. Bashirah harus terus diasah melalui kontemplasi untuk memahami diri sendiri dan kedudukan di hadapan Ilahi.

Pada malam sebelumnya, Sutejo Ibnupakar menjelaskan shidqiyah pale besar dan kewalian pale besar bagian haknya adalah media bagi orang yang memiliki bashirah (mata batin, mata hati) dan semuanya berjalan seizin Allah SWT. Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon itu joke meneruskan jika seseorang tulus mengakui kesalahan-kesalahannya kepada Allah swt maka hidup akan menjadi mudah. Setelah itu lepaskan/ pasrahkan/ pusatkan kepada Allah. Inilah makna kalimat: Laa haula wala quwatta illa billahil aliyil adhiim, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah yang maha agung.

Bashirah

Kegagalan manusia melihat Allah joke boleh jadi karena kita menganggap bahwa keberhasilan atau perubahan nasib hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri. Innallaha la yughoyiru bi qaumin hatta yoghoyiru bi anfusihim, ayat ini kerap dimaknakan secara fisik/ materi yang berhubungan dengan nasib. Para pendakwah mendahwahkan ayat Ar-Rad ayat 11 ini dengan pemaknaan sendiri tanpa melihat asbabun nuzul (sebab musabab turunnya) ayat ini. Kerap dipahami lebih kurang, jika ingin jadi orang kaya maka hanya kamu sendirilah yang mampu mengubahnya. Jika ingin pandai hanya kamu sendiri yang mampu (dan harus) mengubahnya.

Pertanyaannya, apakah Allah tidur? Di manakah Allah ketika manusia meyakini bahwa tanpa bantuan Allah (karena hanya kamu sendiri yang mengubahnya) maka perubahan taraf hidup akan terjadi.

Bila membuka asbabun nuzul ayat di atas, sebenarnya perubahan yang dimaksud adalah perubahan sekelompok kaum untuk menjadi beriman atau tidak sangat bergantung dari apa yang diperbuatnya. Bergantung pada keinginan untuk berubah (minadz dzulumat ila nur/dari gelap menuju cahaya) yang ditentukan oleh kaum itu sendiri. Jadi konteks ayat ini adalah tauhid yang berbasis keimanan, bukan perubahan nasib dari miskin menjadi kaya, bodoh menjadi pandai, dan seterusnya.

Dengan kata lain apabila ingin kaya, berniagalah di pasar dan tidak perlu bantuan Allah. Bukankah hanya kamu sendiri yang mampu mengubahnya? Jika ingin pandai pergilah sekolah dan kuliah, tanpa harus meyakini kemahakuasaan Allah SWT. Inilah hal yang termasuk pada bagian kegagalan melihat Allah manakala kita meletakkan posisi kita di atas kemahamutlakan Allah. Poin kedua yang menjelaskan bahwa  hatimu cenderung kepada hal-hal  yang bersifat fisik semata. Ya, materi lebih kamu suka daripada keimanan kepada Tuhan.

Malam yang membayang diterjang lengkingan saxophone Kenny G menghadirkan getar tentang kerinduan menjumpai Allah SWT di hari akhir kelak dengan khusnul khatimah, akhir yang baik. Kerinduan mampu mendayagunakan bashirah agar mampu melihat nur Allah pada kehidupan nan penuh pesona dan kepalsuan ini.

Tidak ada salahnya apabila sedikit demi sedikit kita tak hanya silau oleh sesuatu yang bersifat materi semata. Pemahaman eksistensialis mesti dibarengi oleh pemahaman esensialis. Yang inti lebih utama dibanding penampilan. Itu sebabnya janganlah sampai mata kita kelilipan melihat performa harta dunia hingga diam-diam melakukan segala cara/ korupsi uang rakyat demi memenuhi keinginan atau kecenderungan hati kepada hal-hal yang bersifat fisik belaka. Jika demikian maka kita tergolong orang yang Gagal Melihat Allah.***