Tinggalkan Kuliah Master demi Jadi Petarung

Sebenarnya sejak kecil Citra terobsesi menjadi atlet profesional. Namun kedua orang tuanya tak menghendaki putrinya memilih jalan itu. Bagi ayah dan ibunya, atlet bukan sebuah profesi yang menjanjikan. “Orang tua melihat olahraga itu buat hobi saja. Jadi mereka memang tidak membuka jalan bagi aku untuk jadi atlet,” ujar Citra. “Karena itu, dari kecil aku memang nggak pernah olahraga.” Izin untuk ikut olahraga baru keluar ketika ia sudah menginjak bangku kuliah. Kebiasaannya nongkrong, bahkan merokok, membuat orang tuanya berpikir ulang. “Orang tua mulai dukung aku olahraga, biar aku ada kegiatan lain.”

Awalnya Citra bergabung dengan Baan Muay Thai Club di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Mendapat kesempatan, Citra menekuni muay Thai dengan serius. Sesekali perempuan yang kini mengecat sebagian rambutnya dengan warna biru itu mencoba masuk ring untuk bertanding. “Biar nggak bosan latihan terus,” katanya. Tak tanggung-tanggung, dia mengejar kejuaraan sampai ke Thailand. Ia pernah menjajal Muay Thai Pro Fights kelas Belt-Light Flyweight Champion di Thailand pada 2011. Pada tahun yang sama, ia juga ikut kejuaraan yang digelar di Singapura.

Meski sangat serius berlatih, bahkan bertanding, Citra tak melupakan kuliahnya. Ia bahkan sempat meninggalkan ring muay Thai untuk menyelesaikan studinya di Jurusan Rekayasa Biomedis (Biomedical Engineering) di Swiss German University, Serpong, Banten. Salah satu hasil penelitiannya bersama Pratondo Busono, peneliti dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, yang berjudul ‘Analysis of Human Skin Texture Using Image Processing Technique’ dipresentasikan dalam Seminar Nasional Informasi Indonesia pada 2013. Penelitian itu bahkan masuk dalam jurnal Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

More about ...