Tumpek Uduh Bukti Bhakti dengan Penguasa Tumbuhan

Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan Tumpek berasal dari kata ‘tampa’ yang berarti turun, kemudian mendapat imbuhan ‘um’ menjadi Tumampa. Dalam perjalanannya, istilah Tumampa mengalami perubahan konsonan menjadi Tumampek dan akhirnya menjadi Tumpek.  “Tumpek berarti suatu hari yang dianggap suci, dimana kekuatan manisfestasi Tuhan turun ke dunia dalam bentuk tertentu,” papar Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa di Mengwi, pekan kemarin. 

Dikatakannya, semua itu juga digambarkan dalam lontar Sundarigama yang menyebutkan :
‘Saniscara Kliwon ngaran, wekasing tuduh rikang wwang, haywa lali amusti Sang Hyang Maha Wisesa, haywa deh, ndan haywa pisah, apasamana tumurun kertanira Sanghyang Anta Wisesa ring rodent kabeh’.

Dalam attract tersebut dijelaskan bahwa Tumpek Uduh yang jatuh pada  Saniscara Kliwon Wariga, disebut hari inti. Di hari tersebut Tuhan memberikan anugerah kepada umat manusia di dunia. “Dalam attract itu pula disebutkan sebuah nasihat, agar kita selalu dekat dengan Tuhan, dan selalu ingat dan melakukan persembahyangan pada hari inti tersebut,” urainya.

Sulinggih yang akrab disapa Mpu Mengwi ini, memaparkan, dalam pelaksanaannya Tumpek Uduh  identik dengan menghaturkan bubur sebagai banten utama dalam rangkaian upakaranya. 

Dijelaskannya, dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa  penggunaan bubur ( bubuh) dalam upacara Tumpek Uduh, di lakukan untuk menghormati Dewa Sangkara sebagi penguasa tumbuh tumbuhan. “Tumpek Uduh itu kan salah satu implementasi dari ajaran Tri Hita Karana, yakni Palemahan. Ibaratnya seperti otonan. Tak hanya manusia saja yang ngotonin, tumbuhan dan hewan joke ngotonin,” paparnya.

Konon, ketika Tumpek Uduh atau Wariga, kita dilarang untuk memetik buah atau memanen.  
“ Pantangan seperti itu hanya mitos yang dibuat oleh orang tua zaman dahulu.  Tujuannya, agar 
kita menghormati tumbuh – tumbuhan supaya dapat bermanfaat lebih lagi kedepannya,” ujarnya. Dicontohkannya, ketika pohon berbuah, hendaknya sudah matang baru dipetik.  Bukan dipetik lebih awal, untuk kemudian diperlakukan lagi dengan cara khusus agar matang.

Ia juga menambahkan, secara filosofi, Tumpek Uduh merupakan ungkapan rasa terima kasih umat manusia kepada Tuhan, yang turun ke dunia untuk memberikan penghidupan berupa makanan dari tumbuh – tumbuhan.  Dalam pelaksanaannya, lanjutnya, Tumpek Uduh dapat dilaksanakan di lingkungan sekitar rumah ataupun pura. Caranya, pada saat ngaturang pasucian, percikkan tirtha bayekawonan, pangulapan, dan  tirtha prayascita. Haturkan  terlebih dahulu ke palinggih kemulan, kemudian ke upakara ayaban, dan terakhir baru ke tumbuh-tumbuhan. 

Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa  juga menuturkan, rangkaian banten Tumpek Uduh di antaranya Pajati lengkap asoroh,  Canang geti-geti, Panyeneng alit , Canang pasucian, Bubuh mawadah limas (4 limas), warna putih, warna abang, warna kuning, dan bubuh   warna hijau. “Jadi, semua banten tersebut harus dihaturkan pada Sanggah Kamulan. Ada juga banten Ayaban dan banten yang dihaturkan di dekat tumbuh – tumbuhan,” paparnya. Khusus banten untuk tumbuhan adalah banten Ayaban 7 bungkul,  Rayunan dengan sarwa meletik (seperti banten prani) Prayascita, Bayekawonan, Pangulapan alit. Kemudian Canang Pasucian, Banten Cau berisi bubuh putih, abang, kuning, dan bubuh hijau, Sasat gantung, dan Sasayut tanem tuwuh. Ketika melaksanakan upakara Tumpek Uduh, lanjutnya, dewa yang distanakan adalah Sang Hyang Sangkara. Tuhan dalam manisfestasinya sebagai pengayom pada tumbuh – tumbuhan. Dijelaskannya, tata cara melaksanakan upakara Tumpek Uduh yaitu melaksanakan persembahyangan kehadapan Sang Hyang Sangkara. “Setelah menghaturkan bebantennya, kita harus melaksanakan persembahyangan yang dipanjatkan kepada Sang Hyang Sangkar.  Selanjutnya matirtha, memakai bija, dan terakhir Sang Yajamana (pelaksana upacara) ngayab upakara tersebut alias nyurud ayu,” paparnya.

Ia juga menjelaskan, setelah selesai muspa sebaiknya surud (mengambil) banten dapetannya , lalu ngayab kepada tumbuh-tumbuhan sambil mengelus-elus batang pohonnya dengan penuh kasih sayang.”Ada pantun atau nyanyian khusus yang biasanya dilantunkan,” urainya. Seperti apa syairnya? “Dadong-dadong we Pekak anak kije? we Pekak ye gelem, we Pekak gelem ape, dadong? we Pekak ye gelem, Nged, Nged, Nged, ” ungkapnya.

(bx/tya/yes/JPR)

More about ...

  • Tumpek Uduh Bukti Bhakti dengan Penguasa TumbuhanTumpek Uduh Bukti Bhakti dengan Penguasa Tumbuhan Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan Tumpek berasal dari kata 'tampa' yang berarti turun, kemudian mendapat imbuhan 'um' menjadi Tumampa. Dalam perjalanannya, istilah Tumampa mengalami […]
  • Sands of TimeSands of Time (6/19/2016) Bali's Rivers and Seashore Agency is recommending that the Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC) continuously deposit sand along the beaches of […]
  • Ini yang Dipersembahkan Saat Tumpek LandepIni yang Dipersembahkan Saat Tumpek Landep TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saniscara Kliwon Landep merupakan hari raya Tumpek Landep dan jatuh setiap enam bulan sekali. Pada saat ini, Tumpek Landep jatuh Senin (31/3/2018) […]