Usir Energi Negatif lewat Tumpek Landep

NGAJUM – Deretan cangkul, sabit, pisau, gergaji, hingga gerinda tertata rapi di pura Dusun Banaran, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, kemarin malam (3/9). Peralatan kerja itu sengaja dibawa oleh umat Hindu untuk disucikan dalam upacara Tumpek Landep. Tradisi yang sudah lama tak digelar tersebut dihidupkan kembali agar mereka bisa terhindar dari energi negatif alat kerja yang memiliki unsur besi atau baja.

”Mobil dan sepeda engine juga masuk karena ada unsur besi di dalamnya. Ini upacara untuk menghilangkan kekuatan negatif,” terang Mangku Santo, pemangku pura Dusun Banaran, Desa Babadan. Dia menjelaskan, secara bahasa, upacara Tumpek Landep dapat diartikan sebagai penyatuan. Yakni, menyatukan unsur yang ada di dalam barang dengan pemiliknya. Agar ketika digunakan untuk bekerja tidak sampai membahayakan. Salah satunya dengan menangkal energi negatifnya. ”Setiap barang itu memiliki energi, jangan sampai energinya negatif. Ritual ini memiliki tujuan untuk meminta kepada Tuhan agar pemilik diberi keselamatan,” terangnya.

Menurut Santo, upacara ini sudah ada di dalam ajaran Hindu, hanya saja belum dilakukan secara bersama-sama. Sebab, ada pemahaman yang masih kurang di kalangan umat. ”Kalau dalam hitungan bulan saka harusnya dilakukan 6 bulan sekali. Kami ingin ini bisa menjadi kebiasaan baik, sebagai bentuk penghormatan,” kata Santo.

Dalam upacara Tumpek Landep, seluruh peralatan yang disucikan diberi semacam sesaji sebagai sarana. Sesaji tersebut tidak boleh dilepas hingga lepas dengan sendirinya. Hal ini sebagai bentuk perlindungan untuk menangkal energi negatif. ”Ritualnya memang seperti itu, tapi bukan berarti ketika sudah disucikan pemiliknya bisa seenaknya sendiri. Tetap harus hati-hati ketika menggunakan peralatannya,” kata pria berusia 37 tahun tersebut.

Selain mengikuti proses ritual, dalam kesempatan tersebut Mangku Santo memberikan penjelasan kepada umat. Terutama kepada generasi muda tentang pentingnya upacara dan tahapan-tahapannya. Sebab, setiap upacara bukan tanpa tujuan yang jelas. Hal ini yang harus dipahami oleh umat, terutama yang masih muda. ”Ritual ini memang tradisi dari nenek moyang, di dalam ajaran juga ada. Jangan sampai karena perkembangan zaman nanti tradisi dan budayanya malah hilang,” katanya.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Ahmad Yahya
Copy Editor : Indah Setyowati
Fotografer : Falahi Mubarok

More about ...

  • Usir Energi Negatif lewat Tumpek LandepUsir Energi Negatif lewat Tumpek Landep NGAJUM – Deretan cangkul, sabit, pisau, gergaji, hingga gerinda tertata rapi di pura Dusun Banaran, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, kemarin malam (3/9). Peralatan kerja itu sengaja […]
  • Sands of TimeSands of Time (6/19/2016) Bali's Rivers and Seashore Agency is recommending that the Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC) continuously deposit sand along the beaches of […]
  • Yuk, Intip Kalender Pariwisata Kota Denpasar Tahun 2017Yuk, Intip Kalender Pariwisata Kota Denpasar Tahun 2017 JAKARTA, KOMPAS.com - Berencana liburan ke Bali tahun depan? Kota Denpasar bisa menjadi pilihan destinasi wisata. Sejumlah acara seperti peringatan hari suci keagamaan, atraksi […]