Warga Kemang Harus Waspadai Banjir

INDOPOS.CO.ID – Permasalahan kompleks tata ruang dan penduduk di bantaran kali masih mendominasi wilayah Jakarta Selatan. Awalnya lebar kali 20 meter, lambat laun menjadi lebar 2 meter. 

“Permasalahan kompleks menyangkut tata ruang dan jumlah penduduk. Yang tidak hanya tinggal di bantaran sungai tetapi sampai ke tengah sungai. Jadi yang mulanya 20 scale lebar sungai kini tinggal 2 meter,” terang Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di kantor BNPB Jakarta Timur, Kamis (26/10) siang.

Sutopo menambahkan, ada pergeseran titik banjir yang biasa terjadi di Jakarta Selatan. Dari yang di Bukit Duri ke Kemang, Jakarta Selatan. “Di Jakarta ini banjirnya bergeser ke Kemang. Biasanya di Bukit Duri sudah relatif dan sudah ditangani karena normalisasi. Jika di Kemang hujan sebentar saja banjir, genangan,” tandas dia.

Kini, normalisasi Kali Ciliwung digeber oleh Pemprov DKI Jakarta. Perlahan tidak membuat banjir di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Hujan yang turun belakangan ini, tidak berdampak banjir pada lokasi di Bukit Duri.

Data yang dihimpun BNPB pada tahun 2014-2016 ada 634 RW dari 125 kelurahan di Jakarta yang rawan banjir. Sehingga banjir disebabkan karena pendangkalan sungai dan lebar badan sungai yang menyempit.

Seperti halnya di kawasan Petogogan, di Kali Krukut yang airnya sering kali meluber dan menggenangi jalan raya dan perumahan warga sekitar Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bahkan di kawasan komersial Kemang, jika hujan lama di Jakarta Selatan maka di Jalan Kemang Raya joke belakangan mulai sering tergenang.

Dia tambahkan, jika Bukit Duri mulai jarang banjir karena Sungai sudah dinormalisasi. Jika di Kemang rawan banjir karena banyak rumah di bantaran Kali Krukut sehingga kali mengalami penyempitan. “Sungai yang sempit dan dangkal serta banyak masyarakat yang tinggal di bantaran kali,” tukas Sutopo. (ibl)

More about ...